Workshop Beginning OpenStreetMap di Lembang, Bandung – Jawa Barat.

Workshop (Beginning OpenStreetMap) selanjutnya dilaksanakan di Lembang, Kab. Bandung, Jawa Barat pada tanggal 24-28 September 2012, tepatnya di Grand Hotel Lembang. Kami sangat senang karena workshop ini disambut dengan baik oleh para peserta, mereka tidak kalah antusiasnya seperti peserta pada workshop yang di laksanakan di Padang minggu lalu.

Peserta merupakan perwakilan dari 15 BPBD Provinsi & Kabupaten, Dinas Kesehatan, LIPI, IOM, PMI, Forum PRB serta Wanadri yang ada di Provinsi Jawa Barat.

Saat workshop berlangsung.

Di hari pertama kegiatan, peserta diperkenalkan apa itu OpenStreetMap (OSM), bagaimana caranya registrasi OSM dan tahap dasar membuat peta dengan OSM. Kebanyakan dari peserta adalah orang yang memang bekerja turun langsung ke lapangan, sehingga mereka sudah tidak buta lagi dengan “Peta”. Bahkan ada dari peserta ada yang sudah mengenal OSM sebelumnya.

Setelah perkenalan mengenai OSM, peserta diajarkan menggunakan Java OpenStreetMap untuk mengedit peta OSM. Walaupun beberapa peserta masih ada yang kesulitan dalam menggunakan JOSM, namun mereka tetap semangat. Kami pun para trainer juga siap membantu untuk memberikan solusi dan jawaban bila ada kesulitan dalam penggunaannya.

Kegiatan pada workshop ini tidak hanya dilaksanakan di dalam ruangan tetapi juga dilakukan survei langsung ke lapangan dengan mengambil data menggunakan GPS dan Walking Papers untuk mendapatkan data yang akurat dan terkini. Peserta dibagi ke dalam enam kelompok dan dipencar di daerah sekitar Kecamatan Lembang untuk memetakan bangunan-bangunan dan fasilitas umum yang ada. Hebatnya, para peserta masih tetap semangat meskipun harus berjalan kaki di siang hari bolong dan menempuh jalan naik-turun lembah pada saat pengambilan data di lapangan. Warga setempat juga menyambut dengan ramah kawan-kawan kami yang sedang melakukan pemetaan.

Peserta menggunakan walking papers untuk acuan pemetaan saat survey lapangan.
Photo by Hersuparyoto

Latihan pengambilan data menggunaan GPS

Mengidentifikasi bangunan yang ada, mulai dari nama bangunan, fungsi, jumlah tingkat, kapasitas, struktur dan atap bangunan.

Tabel survei bangunan

Joseph dan anak-anak sekolah setempat saat melakukan survei.
Photo by Hersuparyoto

Beberapa surveyor kita

Di hari keempat pelatihan, salah satu kelompok melakukan survei pemetaan ke permukiman teratas di daerah Gunung Tangkuban Parahu, sekitar Desa Cikole. Pada saat itu daerah wisata Gunung Tangkuban Parahu baru saja dibuka kembali tanggal 22 September 2012 setelah ditutup karena aktivitas gunung tersebut yang meningkat menjadi waspada pada tanggal 23 Agustus 2012. Gunung Tangkuban Parahu ini adalah gunung api yang masih aktif sehingga perlu diwaspadai karena bencana akibat gunung api bisa datang kapan saja. Peta kerawanan bencana sangat diperlukan sebagai salah satu alat untuk membuat keputusan dalam penanggulangan bencana. Untuk membuat peta ini tentunya dibutuhkan data spasial. Semakin detail data spasial yang ada maka akan semakin detail dan tepat pula peta yang dihasilkan.

Bapak Hersuparyoto, perwakilan dari BPBD Provinsi Jawa Barat ialah salah satu peserta yang sudah menggunakan OSM untuk pemetaan sebelum workshop ini adakan. Namun beliau mengedit peta tidak dengan JOSM melainkan hanya mengedit langsung di website OpenStreetMap. Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan JOSM. Kurang lebih sudah dalam sebulan belakangan ini ia menggunakan OSM untuk memetakan daerah Kabupaten Bogor. Sebelumnya dalam pembuatan peta beliau menggunakan Map Info dan ArcGIS. Bapak yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Eko’ ini bekerja di Pusat Pengendali Operasi di BPBD Provinsi Jawa Barat. Walaupun senang bergurau dan pembawaannya yang santai, beliau sering ikut serta langsung turun ke lapangan saat bencana terjadi bahkan sebagai koordinator tim dalam penanggulangan bencana tersebut. Saat ini beliau sendiri sedang aktif membantu pemantauan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu. Tuturnya, Bencana yang paling sering mengancam Jawa Barat diantaranya adalah banjir, tanah longsor dan gempa. Beliau mengaku OSM sangat nyaman dan mudah dipakai untuk membuat peta terutama untuk para pemula. “OSM lebih mudah digunakan karena citra satelit yang digunakan sebagia dasar membuat peta mudah didapatkan dan gratis, salah satunya dengan citra Bing Sat. Jika menggunakan Map Info, kita tidak ada data citra satelitnya”, tutur Pak Eko. Namun beliau menyayangkan bahwa OSM tidak bisa digunakan untuk pemetaan kerentanan bencana di suatu daerah. Karena apa yang muncul di OSM hanya peta gambaran apa yang ada dipermukaan tanah. Untuk kedepannya beliau akan melanjutkan menggunakan OSM untuk pemetaan dan berharap data pemetaan yang ada semakin lengkap, karena semua orang bisa berkontribusi disini.

Dari Kiri-Kanan: Pak Wawan, Pak Aang, Joseph, dan Pak Hersuparyoto a.k.a Pak Eko

OSM? Jempool !!!

Inilah mereka, para peserta workshop OSM di Lembang. Semoga ilmu yang didapatkan dari workshop ini berguna dan dapat digunakan sebaik mungkin serta dapat disalurkan ke orang lain sehingga semakin banyak orang yang bisa memanfaatkan OSM untuk saling berbagi data spasial secara mudah dan murah 🙂

Jawa Barat Mapper


Comments are closed.