Sebuah Laporan dari #MissingMapsJKT

Pada tanggal 6-7 November 2014, HOT bekerjasama dengan UN OCHA (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs), AIFDR (Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction), dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mengadakan “Missing Maps Jakarta: Data Preparedness for Volcanoes.”

???????????????????????????????

Sesi Pertama #MissingMapsJKT di Brisbane Meeting Room, AIFDR Office

Missing Maps Jakarta dilaksanakan sebagai bagian dari inisiatif global Missing Maps yang diluncurkan serentak di sepuluh kota dari delapan negara pada tanggal 7 November 2014. Missing Maps bertujuan untuk memetakan tempat-tempat rentan di negara berkembang dengan menggunakan OSM (OpenStreetMap). Upaya ini dilakukan dalam rangka mewujudkan ketersiapan data di wilayah rentan, agar kelak pihak yang berkepentingan dapat menggunakan peta dan data yang tersedia untuk merespon krisis yang terjadi di wilayah tersebut.

MISSINGMAPS COUNTRIES

Jadwal peluncuran serentak Missing Maps Project di seluruh dunia

Di Indonesia, Missing Maps Jakarta berkonsentrasi untuk memetakan wilayah di sekitar empat gunung aktif yang dianggap memiliki kerentanan tinggi. Wilayah tersebut berada di sekitar Gunung Sinabung, Merapi, Kelud, dan Rokatenda. Sebelum melaksanakan mapathon, HOT mengadakan pelatihan di AIFDR mengenai pengenalan metode pengumpulan data (iD Editor & JOSM), ekstraksi data (HOT Exports, Overpass Turbo), dan penggunaan data (InaSAFE) di OSM. Pelatihan ini diikuti oleh LSM-LSM yang umumnya beroperasi di sekitar Gunung Sinabung. Sesi ini dilaksanakan pada tanggal 6 November 2014, dan disiarkan secara langsung lewat Google Hangout. Di bawah ini adalah rekaman videonya:

 

Pada tanggal 7 November 2014, Missing Maps Jakarta dengan hashtag #MissingMapsJKT, menjadi Missing Maps pertama yang diluncurkan. Dengan menggunakan Result Maps kami berhasil melacak perubahan angka changeset  yang ditandai dengan keyword #MissingMaps. Mapathon yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB – 16.30 WIB berhasil menambah angka perubahan changesets, dari belasan ribu di pagi hari, menjadi lebih dari 50.000 setelah acara selesai. Perubahan yang cukup signifikan bukan?

changeset

 Perubahan changeset setelah mapathon #MissingMapsJKT

Perubahan visual paling nampak di peta OpenStreetMap Gunung Rokatenda. Peta sesudah #MissingMapsJKT menunjukkan bahwa terjadi banyak penambahan data, terutama di daerah pesisir.

Before-after Rokatenda

 Perubahan visual Gunung Rokatenda sebelum dan sesudah MissingMapsJKT

Perubahan signifikan data OpenStreetMap setelah #MissingMapsJKT tentu saja tidak lepas dari antusiasme dan peran para relawan yang rela menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk #MissingMapsJKT, baik yang hadir di UN OCHA Office, maupun yang membantu dari jarak jauh. Kebanyakan relawan yang hadir di UN OCHA Office berasal dari perwakilan LSM. Besarnya antusiasme mereka terlihat manakala di saat istirahat makan siang, mereka memakan hidangan seraya terus melakukan pemetaan. Antusiasme relawan jarak jauh (remote mappers) juga tidak kalah tingginya, seorang remote mapper dari OSM Jepang yang sedang berkelana ke Argentina, bahkan menyempatkan waktu untuk turut berkontribusi pada #MissingMapsJKT.

TAICHI

 Remote Mappers dari OSM Jepang turut berkontribusi dalam #MissingMapsJKT

Meskipun rangkaian acara #MissingMapsJKT telah usai, keempat wilayah rentan yang belum sepenuhnya terpetakan.Oleh karena itu, OSM Tasking Manager di keempat wilayah rentan sekitar gunung berapi tetap dibuka.
Jika kamu memiliki waktu untuk memetakan wilayah rentan tersebut, kamu dapat mengakses OSM Tasking Manager lewat tautan-tautan di bawah ini:

Gunung Rokatenda: http://tasks.hotosm.org/project/746 

Gunung Kelud: http://tasks.hotosm.org/project/425 

Gunung Merapi: http://tasks.hotosm.org/project/82 

Gunung Sinabung: http://tasks.hotosm.org/project/750

Tunggu apa lagi? Ayo segera berkontribusi!

Sindhunata
Sindhunata
Sindhunata is a Communication Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied Anthropology in Universitas Indonesia.

Comments are closed.