Proses Pemetaan Banjir Jakarta dengan Perangkat Lunak Bebas Terbuka – QGIS 2.0

bpbd_dki

Peta banjir di website BPBD DKI Jakarta

Musim penghujan telah tiba, dan seperti biasa Jakarta selalu dilanda bencana banjir tahunan akibat tingginya curah hujan di setiap akhir hingga awal tahun (Desember hingga Februari). Informasi terkait bencana sangatlah penting, apalagi untuk banjir, masyarakat perlu akses terbuka untuk mengetahui wilayah-wilayah mana saja yang tergenang banjir. Namun, tentu saja informasi yang berbentuk tekstual kurang menarik untuk disajikan. Oleh karena itulah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta dibantu oleh 2 orang GIS Specialist dari Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) melalui Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR-DFAT Australian Aid) membuat peta-peta terkait bencana banjir yang melanda ibukota kita tercinta ini.

IMG_20140114_232558

Ruang Pusdalops BPBD DKI Jakarta

IMG-20140119-WA0000

Suasana saat tim GIS melakukan entri data untuk peta banjir di Pusdalops BPBD DKI Jakarta

Perlu diketahui bahwa seluruh peta yang dihasilkan tidak menggunakan perangkat lunak (software) komersial atau berbayar. Perangkat lunak yang digunakan adalah gratis dan terbuka, apalagi kalau bukan QGIS 2.0 kini sudah tersedia di qgis.org untuk Windows, OSX, dan Linux. Kami menguji seluruh kemampuan QGIS 2.0 terbaru ini sejauh mana ia dapat membuat peta-peta dalam tempo dan waktu yang sesingkat-singkatnya.

Screen Shot 2014-01-24 at 9.45.55 AM

QGIS 2.0 di OSX

Proses pembuatan peta pada umumnya terdiri dari 3 tahap:

  1. Pengumpulan data, pengolahan, dan entri data
  2. Pengaturan simbologi
  3. Perancangan layout peta

Tahap 1: Pengumpulan data, pengolahan, dan entri data

Untuk peta banjir yang dibuat dengan BPBD DKI Jakarta, data dikumpulkan berdasarkan laporan dari setiap Kelurahan melalui call center, fax, BBM, dsb. yang masuk ke Pusdalops BPBD DKI Jakarta. Kemudian, tim Pusdalops membuat rekapitulasi dalam bentuk form tabel seperti ini:

rekap_pusdal

IMG_20140114_034030

Tidak ada data = tidak ada peta. Data merupakan komponen penting dalam peta.

Laporan rekapitulasi seperti ini jika kejadian banjir cukup intens, maka akan dibuat setiap 6 jam sekali (atau 4 kali sehari) yaitu pukul: 06:00, 12:00, 18:00, dan 24:00

Nah, kemudian, langkah selanjutnya yang kami lakukan adalah mengolah data tersebut. Kami membuat kelas tinggi genangan berdasarkan informasi tinggi genangan.

  1. Kelas 1: 10 – 70 cm
  2. Kelas 2: 71 – 150 cm
  3. Kelas 3: > 150 cm
  4. Kelas 4: Ada informasi laporan genangan, namun tidak ada informasi ketinggian air sehingga kami anggap “Belum ada data”

Selanjutnya adalah, kami melakukan entri data dengan perangkat lunak QGIS 2.0. Kami menggunakan data batas wilayah RW yang bersumber dari OpenStreetMap. Data peta tersebut merupakan data vektor. Selain menunjukan koordinat atau lokasinya, setiap bentukan RW juga memiliki tabel informasi.

attribute_table

Kami menambahkan kolom baru di tabel tersebut “affected” dan “tinggi”. Jika wilayah RW tersebut ada genangan sesuai dengan laporan, maka kami beri nilai 1. Sedangkan nilai tinggi disesuaikan dengan kelas ketinggian yang kami tentukan sebelumnya. Setelah itu, barulah kami mulai proses entri data dengan mencari Kelurahan terdampak terlebih dahulu kemudian memasukan nilai yang sesuai satu per satu sesuai dengan tabel rekapitulasi yang diberikan oleh tim Pusdalops. Jadi lamanya entri data ini sangat tergantung pada kejadian banjir saat itu. Jika RW yang terdampak cukup banyak, maka bisa dibayangkan lama-nya proses entri data ini. Pada saat-saat kejadian banjir yang cukup intens, dimana laporan yang diberikan oleh Pusdalops bisa lebih dari 20 halaman, biasanya entri data seperti ini membutuhkan waktu 1-2 jam bahkan bisa lebih lama 🙁

Mungkin, Anda bertanya, di tabel Excel ada informasi RT yang tergenang, kenapa tidak menggunakan batas RT? Jawabannya adalah, sampai saat ini, data yang tersedia hanyalah batas wilayah RW. Jadi, kami menggunakan unit analisis RW. Memang jadinya sedikit bias, karena ada RW yang tergenang sebenarnya hanya 1 atau 2 RT. Tapi unit analisis ini masih lebih baik jika dibandingkan menggunakan batas Kelurahan, karena cakupan luas kelurahan lebih luas dibandingkan RW (bisa dibayangkan betapa biasnya jika 1 Kelurahan ternyata hanya 1 RW yang kebanjiran). Oleh karena itulah, beberapa postingan mengenai komparasi sebaran banjir yang sempat heboh di dunia maya sebenarnya tidak adil untuk dibandingkan 🙂

banding

Sebelah kiri, 17 Januari 2013 menggunakan unit analisis Kelurahan. Sedangkan 14 Januari 2014 menggunakan unit analisis RW. Namun, bukan berarti si pembuat peta 17 Januari 2013 salah, karena data yang diperoleh mungkin berbeda unit analisisnya.

Tahap 2: Pengaturan Simbologi

Setelah data di-entri di dalam peta, saatnya mengatur simbologi. Dengan QGIS 2.0, pengaturan simbologi lebih simpel dan lebih mudah. Kita bisa mengatur pewarnaan berdasarkan nilai pada kolom yang kita tentukan. Jika kita ingin menampilkan wilayah banjir saja, kita atur menjadi kolom “affected”, sedangkan jika ingin menampilkan kelas ketinggian, kita atur menjadi kolom “tinggi”. Simbol lain seperti batas wilayah juga perlu diatur sedemikian rupa agar tampilan peta lebih menarik dan siap di layout. Peta-peta banjir yang buat untuk BPBD DKI Jakarta kami atur sedemikian rupa agar masyarakat awam lebih mudah membacanya 🙂

atur

Tahap 3: Perancangan Layout Peta

composer

Melayout peta di QGIS 2.0

Merancang layout berarti mengatur tampilan peta untuk siap dicetak dan didistribusikan. Kita dapat mengatur tampilan komponen-komponen peta seperti judul peta, skala, legenda, dan lain-lain. Tampilan layout harus dirancang sedemikian rupa agar mudah dibaca bahkan oleh orang awam sekalipun. Layout ini ada maksud dan tujuannya, setiap informasi baik peta maupun informasi tepi di sampingnya memiliki arti, semakin banyak informasi tepi yang diberikan maka peta tersebut semakin bisa dipertanggungjawabkan, karena jika ada masyarakat yang bingung, orang dapat membaca keterangan tambahan di dalamnya atau menghubungi lembaga yang membuatnya. Jadi, jika ingin melampirkan peta, sebaiknya ditampilkan secara utuh bersama dengan informasi tepi yang tercantum 🙂

Dan jadilah produk peta BPBD DKI Jakarta seperti yang dapat Anda lihat di http://bpbd.jakarta.go.id/peta-banjir/

Untuk peta kronologis berbentuk animasi, sebenarnya itu adalah kumpulan-kumpulan peta yang kami rancang dengan layout yang sama tetapi menggunakan data kejadian yang berbeda-beda dan diurut berdasarkan waktu kejadian. Gambar-gambar tersebut digabungkan dengan perangkat lunak pembuat animasi GIF (di OSX GIFfun merupakan perangkat lunak gratis yang cukup baik).

Tertarik ingin belajar OSM dan QGIS? Kami punya panduannya di sini: http://openstreetmap.id/resources/guide/ 

7 Comments

  1. Cakep banget petanya Mbak Nisa.
    Kami akan adakan training OSM pertengahan Februari 2014. Semoga bisa

  2. Charlotte Morgan berkata:

    Terima kasih untuk version En dan berkerja bagus!
    Apa AusAID atau DFAT Australian Aid?

  3. Martin M Baihaqi berkata:

    Saya sedang tertarik belajar QGIS, hidup Indonesia….. Go Open Source 😀

  4. bram berkata:

    mantab, lanjutkan, btw batas RW beneran tersedia di OpenStreet Map ?

    • Yantisa Akhadi berkata:

      siyap, lanjutkan! :D. Yup Bram, tersedia koq walaupun baru untuk Jakarta ya, karena di tahun 2012 kita pernah mengadakan Jakarta Mapping melibatkan semua Kelurahan di Jakarta.

    • elida berkata:

      Untuk Wilayah DKI Jakarta ada mas, karena pada tahun 2012 pernah dilakukan pemetaan batas wilayah (hingga batas RW) oleh pemerintah prov DKI Jakarta 🙂