HOT Menggerakkan Komunitas melalui Aktivasi Tasking Manager dan Mapathon Pidie

Gempa bumi berkekuatan 6,5 SR mengguncang wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Propinsi Aceh pada Hari Rabu, 05.00 WIB (7/12/16). Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km. Diduga kuat gempa ini dibangkitkan oleh sesar aktif Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya berarah barat daya – timur laut.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 11,688 unit infrastruktur rusak, termasuk 161 rumah, 61 masjid, 16 sekolah dan 10 gedung pemerintahan. Perhitungan total kerugian material saat ini mencapai Rp 1,8 trilliun (20/12/16). Informasi terakhir terkait jumlah korban (12/12/16) mencapai 101 orang meninggal dunia, dimana 94 di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Sejumlah 83,838 orang masih berada di tempat pengungsian yang tersebar di 124 wilayah. Kelompok masyarakat yang mengalami dampak paling besar adalah di Pidie Jaya (82.122 orang di 120 wilayah), diikuti oleh Bireuen District (1,716 orang di 4 wilayah).

Sebagai respon terhadap bencana ini, Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), organisasi yang berdedikasi dalam penguatan komunitas pemetaan terbuka untuk kebencanaan, mengaktivasi suatu alat yang memungkinkan relawan menolong populasi terdampak mendapatkan akses bantuan kemanusiaan. Alat ini, OpenStreetMap Tasking Manager, memampukan siapa saja mengakses citra satelit dan mendigitasi dengan cara mengintepretasi, mengikuti dan menambahkan informasi hanya dengan koneksi internet. Data ini kemudian dapat diproses lebih lanjut oleh perangkat lunak tertentu, semisal InaSAFE, yang dapat menginformasikan pengambil kebijakan estimasi jumlah bahan bantuan yang diperlukan untuk menjangkau seluruh korban. Data yang terkumpul juga dapat digunakan pada platform lain untuk berbagai tujuan.

screen-shot-2016-12-22-at-3-43-12-pm

Gbr 1. InaSAFE, suatu perangkat lunak yang menghasilkan skenario dampak ancaman bencana untuk perencanaan, kesiapsiagaan dan respon yang lebih baik. Alat ini memungkinkan penyatuan data dari peneliti, pemerintah lokal dan komunitas dan memberi gambaran kemungkinan dampak kejadian bencana di masa depan.

Sama halnya dengan banyak wilayah di Indonesia, data spasial di Pidie sangat minimum, bahkan bisa dibilang tidak ditemukan sama sekali. Pemetaan data spasial memungkinkan institusi penanggulangan bencana merumuskan, melakukan visualisasi dan mendapat informasi tentang jumlah dan sebaran bangunan, fasilitas publik, jaringan jalan dan jalur perairan di suatu kawasan. Informasi ini sangat krusial untuk proses perencanaan, respon dan pemulihan kejadian bencana.

Sayangnya, peta komersil dibangun dengan design untuk menjawab kebutuhan konsumsi. Ini berarti data spasial tersentralisasi di wilayah besar dan metropolitan dimana banyak bisnis berlokasi. Data spasial yang sama yang digunakan untuk bisnis juga dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana, namun ini berarti wilayah terpencil yang tidak menawarkan insentif komersil untuk bisnis terkonsentrasi akan menjadi semakin terbelakang dalam hal ketersediaan data. Ketika bencana menghantam daerah-daerah pelosok ini, institusi penanggulangan bencana akan sangat kesulitan untuk mengkoordinasikan dan memutuskan secara akurat upaya penyaluran bantuan.

auto_ok_comparison_sigli_new2

Gbr 2. Menyandingkan Perbandingan OpenStreetMap dan Peta Digital Lainnya dalam Hal Kelengkapan Data di Wilayah Terpencil (dalam Hal Ini di Pidie)

Dengan adanya perangkat OpenStreetMap Tasking Manager yang dibangun oleh HOT, seluruh pihak yang ingin berkontribusi dapat berkoordinasi memberikan informasi yang dibutuhkan secara online, terlepas dari lokasi geografis pihak tersebut. Relawan lapangan dan masyarakat di sekitar wilayah dipetakan kemudian dapat menggunakan informasi ini dan menambahkan detail lebih lanjut untuk membantu institusi penanggulangan bencana mendapat informasi yang lebih akurat terkait jumlah kebutuhan riil bantuan.

“Cara Tasking Manager beroperasi sangat sederhana. Ketika suatu bencana terjadi, HOT atau institusi partnernya, seperti BNPB, dapat mengaktivasi tasking melalui: tasks.openstreetmap.id,” jelas Elida Nurrohmah, Pelatih GIS dari HOT. “Individu yang ingin membantu dapat membuka laman tasking dan memilih kotak yang ingin dipetakan baik secara manual maupun random. Ketika selesai, perubahan yang dilakukan akan ditandai untuk validasi lebih lanjut serta akan langsung dimuat di OpenStreetMap, siap untuk digunakan di lapangan.”

screen-shot-2016-12-22-at-3-46-31-pm

Gbr 3. OSM Tasking Manager untuk Gempa Pidie, suatu alat untuk membagi tugas pemetaan menjadi kotak tasking kecil untuk dilengkapi dengan cepat. Alat ini menunjukkan wilayah mana yang masih perlu dipetakan dan mana yang perlu divalidasi. Tasking untuk Pidie dapat diakses di: http://tasks.openstreetmap.id/project/178.

Selama 6 hari sejak Tasking Manager Pidie diluncurkan, lebih dari 70% dengan jumlah kotak tasking (sejumlah 409) berhasil dipetakan oleh lebih dari 80 relawan, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Untuk mempercepat proses pemetaan sisa wilayah yang lebih padat penduduk, Pidie Mapation diselenggarakan di tanggal 14-15 Desember 2016, bertempat di Graha BNPB, Jakarta. Relawan dari berbagai institusi, termasuk HOT, DMInnovation, Pacific Disaster Centre, Oxfam, Palang Merah Indonesia, IFRC, PP LPBI-NU, MDMC, Muslim Aid dan Universitas Indonesia berkumpul untuk melengkapi dan melakukan validasi data paparan. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Edy Suryawan Purba, Kepala Subdirektorat Penyiapan Sumber Daya dan didukung pula oleh Pemerintah Australia.

“Saat ini sangat sedikit data spasial tersedia di wilayah terpencil dan kalaupun ada, masih berbentuk tabular sehingga sulit untuk automatisasi pembacaan, analisa dan pemrosesan selanjutnya,” Edy menjelaskan saat pembukaan acara. Dengan adanya OpenStreetMap Tasking Manager, sangat mungkin bagi siapa saja untuk meluangkan waktu dan energinya untuk terlibat membantu wilayah terkena bencana. Beberapa orang mungkin mengalami kendala lokasi geografis, finansial dan fisik saat ingin menjadi relawan lapangan. Tasking menambah ruang berkontribusi bagi komunitas selain panggilan untuk bantuan doa dan dana. Grafik di bawah ini menunjukkan hasil dari mapathon, berfokus pada wilayah padat penduduk. Mapathon berhasil meningkatkan jumlah bangunan, jalan dan sungai sebanyak dua kali lipat dalam jangka waktu yang lebih singkat.

screen-shot-2016-12-22-at-5-19-08-pm

Gbr 4. Dokumentasi Kegiatan Pidie Mapathon di Graha BNPB, Jakarta.

screen-shot-2016-12-22-at-3-50-44-pm

Gbr 5. Ringkasan Jumlah Kontributor, Bangunan, Jalan Raya, Sungai dan Presentasi Wilayah Terpetakan dan Tervalidasi, Sebelum dan Sesudah Mapathon.

OSM Tasking Manager didesign dan dibangun oleh Humanitarian OpenStreetMap Team, dengan kerja sama DMInnovation (sebelumnya Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction), USAID GeoCenterUSAID Office of Transition Initiatives dan World Bank – GFDRR. Tutorial bagaimana cara berkontribusi untuk pemeta pemula dapat dilihat di OSM Wiki, LearnOSM and MapGive. Data yang terkumpul dapat diunduh dari halaman berikut: https://wiki.openstreetmap.org/wiki/2016_Aceh_earthquake.

Terdapat 104,876 bangunan, 4,007 jalanan dan 255 alur sungai yang kini terpetakan di OpenStreetMap pasca Pidie Mapathon dan Aktivasi Tasking Manager, terima kasih atas kontribusi komunitas HOT OpenStreetMap di Indonesia dan dari seluruh dunia! HOT sebagai organisasi juga akan terus menyalurkan penguatan kapasitas, pengetahuan teknis dan substantif cara menggunakan Tasking Manager ke lebih banyak komunitas dan pemerintah terutama di level sub-nasional agar ketersediaan data dan kesiapsiagaan bencana dapat terus bertumbuh untuk memitigasi kejadian-kejadian yang mengancam nyawa, terutama di wilayah terpencil namun rentan terhadap bencana. Melihat begitu banyaknya kejadi bencana dan krisis lainnya di Indonesia, komunitas OpenStreetMap memiliki tugas moral yang besar untuk terus melanjutkan kegiatan pemetaan di Indonesia.


Publikasi Terkait:

Biondi Sima
Biondi Sima
Biondi is a Communications Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied International Economic Policy and Sustainable Development in SciencesPo Paris and Peking University Beijing.

Comments are closed.