Pengenalan dan Pelatihan InaSAFE kepada UNESCO

Pada hari selasa tanggal 7 Juni 2016, Disaster Management Innovation (DMInnovation) dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia berkesempatan untuk berkunjung ke kantor perwakilan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau yang lebih sering kita sebut UNESCO regional Asia Pasifik di Jakarta. Kunjungan DMInnovation dan HOT Indonesia adalah dalam rangka memperkenalkan InaSAFE kepada para staff lokal maupun staff internasional terkait dengan salah satu proyek UNESCO yang bernama VISUS.

VISUS  merupakan proyek UNESCO bekerja sama dengan beberapa pihak universitas seperti Safety and Protection Intersectoral (SPRINT) Laboratory of University of Udine in Italy, Faculty for Civil Engineering and Environmental of Bandung Technology Institute (FTSL ITB) and Natural Sciences Unit of UNESCO Headquarter Paris. VISUS bertujuan untuk memberikan informasi dampak resiko bencana terhadap fasilitas-fasilitas pendidikan di suatu wilayah beradasarkan tingkat resiko ancaman, bahaya, tindakan penanggulangan serta estimiasi biaya/kerugian. Informasi ini kemudian diteruskan kepada para pengambil kebijakan dan komunitas pendidikan untuk dapat diambil tindakan yang tepat. Saat ini VISUS tengah masuk dalam tahap 2 dimana diharapakan dapat diintegrasikan dengan perangkat lunak yang telah digunakan seperti InaSAFE. Oleh karena itu, tujuan pelatihan ini adalah untuk memperkenalkan InaSAFE kepada mereka dan juga mencoba mensinergikan dan mengintegrasikan InaSAFE dengan VISUS.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor UNESCO Indonesia di Jalan Galuh II No.5, Kebayoran Baru, Jakarta dari pukul 15.00 – 19.00 WIB. Pelatihan ini dihadiri oleh 15 orang akan tetapi akibat beberapa peserta pelatihan berada di luar Jakarta dan Indonesia maka pelatihan ini dilakukan juga melalui panggilan video Skype.

Pelatihan dimulai oleh perkenalan konsep dan sejarah InaSAFE di Indonesia oleh Charlotte Morgan selaku Spatial Data Analyst dari DMInnovation. Dalam kesempatan ini, beliau menjelaskan tentang konsep InaSAFE dan beberapa kegiatan di Indonesia yang menggunakan InaSAFE dalam aktifitas kebencanaan. Setelah itu kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pratik dimana para peserta mencoba menggunakan QGIS dan InaSAFE. Kegiatan ini dipandu oleh Harry Mahardhika Machmud dari HOT Indonesia dan dibantu oleh Felix Yanuar dan Ivan Bushtomi dari DMInnovation. Sesi praktik InaSAFE ini dibagi ke dalam 4 bagian yaitu :

  • Pengenalan QGIS
  • Menjalankan InaSAFE Tingkat Dasar
  • Menjalankan InaSAFE Tingkat Menengah
  • Menjalankan Beberapa Ancaman Lain di InaSAFE

Materi sesi pengenalan QGIS dimulai dengan menginstall QGIS dan InaSAFE, akan tetapi untungnya para peserta sudah menginstall kedua software tersebut sebelum pelatihan dimulai sehingga materi tersebut bisa dilewatkan. Selanjutnya peserta diajarkan cara mengatur toolbar di QGIS serta memasukkan data dan melakukan simbologi sederhana terhadap data banjir di Jakarta.

Setelah itu peserta melakukan praktik InaSAFE tingkat dasar dimana mereka mencoba melihat dampak banjir di Jakarta pada tahun 2013 terhadap bangunan serta penduduk yang terdampak secara cepat. Selain itu para peserta diajarkan mengatur ambang batas ketinggian banjir yang akan digunakan sehingga dampak terhadap bangunan, jalan ataupun kebutuhan minimum untuk penanganan penduduk terdampak dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Setelah memahami bagaimana menjalankan InaSAFE secara cepat para peserta kemudian mempelajari praktik InaSAFE tingkat menengah. Dalam kegiatan tingkat menengah ini para peserta diajarkan bagaimana bisa memasukkan kata kunci (keyword) dari masing-masing data yang ada. Selain itu peserta juga diajarkan bagaimana bisa menggunakan data batas administrasi sebagai agregasi sehingga hasil InaSAFE mereka tidak hanya menampilkan jumlah bangunan ataupun penduduk terdampak secara luas tetapi dapat lebih spesifik sesuai dengan batas administrasi seperti kecamatan ataupun kelurahan. Dalam sesi InaSAFE tingkat menengah ini para peserta masih menggunakan skenario banjir di DKI Jakarta tahun 2013. Terakhir para peserta diajarkan mendapatkan data-data keterpaparan seperti bangunan dan jalan dari OpenStreetMap sebagai salah satu pilihan untuk mendapatkan data keterpaparan yang dibutuhkan menggunakan alat OpenStreetMap Downloader.

Sesi terakhir merupakan sesi pengenalan ancaman lain selain banjir di InaSAFE. Dalam kegiatan ini para peserta mencoba untuk menjalankan gempa bumi di Kota Padang pada tahun 2009. Mereka diajarkan bagaimana mencoba menjalankan InaSAFE dari awal mulai dari menentukan kata kunci (keyword) hingga mencetak hasil InaSAFE dalam bentuk peta dan tabel statistik.

Activity Documentation

Secara umum pelatihan berjalan dengan lancar dan baik. Walaupun beberapa peserta melakukan pelatihan menggunakan video panggilan skype, fasilitas dan akses internet yang disediakan oleh panitia memadai sehingga tidak mejadi suatu halangan berarti untuk bisa mengikuti pelatihan hingga akhir. Para peserta juga mengatakan bahwa InaSAFE merupakan platform yang baik dan memiliki beberapa kesamaan dengan VISUS dan akan melihat kemungkinan untuk bekerja sama dalam penggunaan InaSAFE. Kegiatan ini ditutup dengan acara foto bersama antara trainer dan para peserta.

WhatsApp-Image-20160609 (3)

Harry Mahardhika
Harry Mahardhika
Anggota Humanitarian OpenStreetMap Team Indonesia. Geografi Universitas Indonesia angkatan 2009.

Comments are closed.