Pembukaan Training OSM di Kupang, Nusa Tenggara Timur

Hari senin tanggal 17 September 2012 merupakan pembukaan sekaligus hari pertama dari  pelatihan dari Open Street Map. Pelatihan ini merupakan kerjasama dari AIFDR (Australian Indonesia Facility for Disaster Reduction), Tim Kemanusiaan Open Street Map (HOTOSM) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan pemetaan perencanaan kontigensi di Indonesia dengan melakukan pelatihan kepada trainer-trainer di Kupang dan 5 provinsi lain di Indonesia yaitu Papua Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat.

            Pelatihan ini dimulai dengan kata pengantar oleh Kristy Van Putten dari AIFDR dan pengenalan masing-masing trainer dan para peserta pelatihan. Setelah pengenalan ada sebuah presentai dari Bapak Catur Sudiro perwakilan dari Masyarakat Penanggunlangan Bencana Indonesia (MPBI) tentang Pengembangan Skenario Perencanaan Kontigensi. Beliau mengatakan bahwa Bnpb telah menyusun kurikulum internasional untuk training tentang apa itu bencana kontigensi.

Ada 3 gladi dalam bencana kontgensi (simulasi skenario) :

  • Gladi rekon
  • Gladi lapang (uji coba rekon)
  • Galadi Pemetaan

            Rencana Kontijensi (rekon) yaitu perencanaan untuk menghadapi keadaan yang tidak menentu dimana dalam perencanaan itu kita membuat skenario serta tujuan yang dsepakati bersama baik secara teknis dan manajemen  serta sistem yang disetujui untuk mencegah atau menanggulangi secara lebih baik kondisi dan situasi darurat yang dihadapi. Rekon sulit untuk dilakasanakan karena waktunya relatif panjang untuk dilaksanakan ataupun bencana yang datang secara tiba-tiba.

            Ada 3 ancaman yang sudah teridentifikasi di NTT seperti kekeringan, gunung api dan banjir oleh karena itu sebaiknya di NTT ada 3 Rekon karena dalam menghadapi dan menangani bencana memiliki Rekon yang berbeda-beda.

Pengembangan skenario :

  • Ancaman apa yang mengancam propinsi? Yang mana yang kemungkinan akan terjadi dan berdampak paling besar?
  • Menurut informasi  dari lembaga yang berwenang sebesar apa bencana apa yang akan terjadi? co: ada 129 gunung aktif di Indonesia.
  • Wilayah mana yang akan berdampak?
  • Di wilayah ini bencana akan berdampak ke siapa saja dan apa saja
  • Penduduk? Usia? Bangunan?
  • Berapa banyak yang perlu dievakuasi?
  • Kapan mereka perlu dievakuasi?

Setelah itu kita lakukan analisis kesenjangan. Seperti apa saja yang dibutuhkan setelah bencana dan mendata apa saja yang sudah kita punya dan dimana terjadinya kesenjangan. Kesenjangan = kebutuhan kapasitas dan yang terakhir beliau menjelaskan tentang InsSafe dan OSM secara umum.

Selanjutnya kata sambutan oleh Bapak Josua selaku perwakilan dari AIFDR NTT dan Bapak Tini Tadeus selaku Bapak Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT. Dalam sambutannya bapak Tini Tadeus mengatakan bahwa penanganan bencana harus kuat dari organisasi kelembagaannya dalam membuat dan menangani mulai dari tingkat provinsi sampai tingkat masyarakat dalam membuat perencanaan menanggulangi bencana. Di NTT sendiri sebetulnya jumlah personil dan organisasi kebencanaan sudah ada dan lengkap akan tetapi praktik  dan fakta di lapangan memang masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu  faktor sumber daya manusia (SDM) menjadi sangat penting dalam hal ini.dan pelatihan dari OSM inilah yang menjadi salah satu wadah dalam mempersiapkan manusia-manusia yang siap melakukan tindakan penanganan dalam menghadapi kondisi bencana yang terjadi di lapangan.

Pembukaan Training oleh Bapak Tini Tadeus

Pembukaan Training oleh Bapak Tini Tadeus

Bapak Catur Sudiro Memberikan Presentasi

Bapak Catur Sudiro Memberikan Presentasi

Suasana Pembukaan Training di Kupang
Suasana Pembukaan Training di Kupang

Harry Mahardhika
Harry Mahardhika
Anggota Humanitarian OpenStreetMap Team Indonesia. Geografi Universitas Indonesia angkatan 2009.

Comments are closed.