Pembuatan Kajian Risiko Bencana Menggunakan QGIS dan InaSAFE sebagai Upaya untuk Mengurangi Dampak yang Timbul Akibat Bencana di Toraja Utara, Sulawesi Selatan

Letak geografis Indonesia menyebabkan negara kita sangat erat kaitannya dengan masalah bencana. Banjir, tanah longsor, gunung berapi, serta tsunami merupakan bencana yang sering dihadapi oleh negara kita. Dampak yang muncul akibat bencana pun sangat masif, mulai dari hilangnya harta benda, rumah, bahkan korban jiwa. Oleh karena itu, perlu adanya suatu kajian untuk dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.

Humanitarian Openstreetmap Team (HOT) Indonesia bekerja sama dengan Church World Service (CWS) Indonesia mengadakan kegiatan pelatihan dalam rangka pembuatan “Kajian Risiko Bencana di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan”. Kegiatan pelatihan ini merupakan program lanjutan dari kegiatan pelatihan Openstreetmap (OSM) yang telah terlaksana sebelumnya. Adapun tujuan dari rangkaian kegiatan pelatihan ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai tanggap bencana melalui kajian yang berbasis ilmiah menggunakan software pemetaan QGIS dan InaSAFE.

Suasana pada saat pelatihan

Pelatihan berlangsung pada hari tanggal 5-7 Desember 2016 mulai pukul 09.30 hingga 17.00 WITA di ruang seminar Hotel Hiltra Toraja, Rantepao, Toraja Utara. Peserta pelatihan kali ini terdiri dari beberapa orang yang telah mengikuti kegiatan pelatihan tahap pertama, meskipun ada beberapa diantaranya yang baru mengikuti pelatihan tahap kedua ini. Peserta berasal dari berbagai macam institusi, lembaga, maupun LSM, seperti BPS, BPBD, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Kehutanan, dan lain sebagainya.

Para peserta belajar membuat peta menggunakan QGIS

Para peserta belajar membuat peta menggunakan QGIS

Pelatihan tahap dua lebih berfokus mengenai bagaimana membuat sebuah kajian risiko kebencanaan dengan memperhatikan tiga aspek utama : kerentanan, kapasitas, dan ancaman. Pembuatan ketiga aspek tersebut dilakukan dengan metode pembobotan dan juga skoring terhadap setiap parameter penyusunnya. Setelah itu, peserta diajarkan bagaimana membuat peta risiko menggunakan QGIS dan juga InaSAFE untuk menghitung data keterpaparan dari suatu bencana yang terjadi. Materi yang diberikan pada kegiatan pelatihan kali ini meliputi :

  1. Pengenalan alur kajian risiko bencana
  2. Identifikasi parameter untuk ketiga aspek penyusun kebencanaan
    1. Parameter kapasitas
    2. Parameter kerentanan
    3. Parameter ancaman
  3. Skoring dan pembobotan untuk ketiga aspek penyusun kebencanaan
  4. Pengenalan Sistem Informasi Geografi dalam manajemen bencana
  5. Pengenalan QGIS dan InaSAFE
  6. Praktik dasar QGIS dan InaSAFE untuk menghitung dampak bencana
  7. Valuasi risiko
  8. Pembuatan peta risiko bencana
  9. Pembuatan layout peta

Secara keseluruhan, pelatihan dapat terlaksana dengan baik. Pada akhir kegiatan, peserta telah mampu menentukan parameter yang dibutuhkan dan juga mampu menghitung skor dan pembobotannya. Peserta juga telah mampu membuat peta dan melayoutnya menggunakan fitur Map Composer pada QGIS. Diharapkan hasil dari pelatihan ini mampu meningkatkan kemampuan pemerintah setempat untuk lebih tanggap dan siap siaga dalam menghadapi bencana.

Foto bersama dengan para peserta dan trainer

Foto bersama dengan para peserta dan trainer

Adhitya Dido
Adhitya Dido
Mapping Supervisor of Humanitarian Openstreetmap Team Indonesia.

Comments are closed.