Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bekerjasama dengan LPBI NU

Pembuatan kajian risiko menjadi penting dalam konteks kebencanaan, terutama di negara yang kerap dilanda bencana seperti Indonesia. Penguatan kapasitas pemerintah setempat dan masyarakat lokal di wilayah-wilayah rawan bencana menjadi hal yang perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana yang ditimbulkan. Adanya kajian risiko sangat bermanfaat untuk mengetahui dampak dan potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan akibat suatu bencana.

Dalam rangka peningkatan kapasitas terhadap pemerintah daerah dan masyarakat lokal dalam menghadapi bencana, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bekerjasama dengan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia menyelenggarakan kegiatan pelatihan “Penyusunan Kajian Risiko Bencana” di dua lokasi berbeda, yaitu Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pelatihan ini merupakan tahap pertama dari serial pelatihan yang akan diselenggarakan selanjutnya. Tujuan pelatihan tahap pertama ini adalah untuk memperkenalkan OpenStreetMap (OSM) sebagai suatu cara untuk melakukan pemetaan di daerah yang terkena dampak bencana dan mengajarkan kepada peserta bagaimana melakukan pemetaan menggunakan OSM. Pada akhir pelatihan, diharapkan para peserta dapat mengetahui bagaimana cara memetakan menggunakan OpenStreetMap dan melakukan pemetaan menggunakan OSM di daerahnya masing-masing. Hasil akhir dari pelatihan ini adalah terbentuknya sebuah dokumen kajian risiko yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan pemerintah setempat ketika terjadi bencana.

Kegiatan pelatihan di Kota Pare – Pare berlangsung pada tanggal 14 – 17 Februari 2017 bertempat di Hotel Parewisata, Kota Pare – Pare, sedangkan kegiatan pelatihan di Jepara berlangsung dari tanggal 21 – 24 Februari 2017, bertempat di Ruang Kuliah Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Peserta pelatihan berjumlah 25 orang yang berasal dari berbagai institusi, seperti BPBD, PMI, Pramuka, LPBI NU, dan perwakilan universitas.

Suasana Pelatihan di Pare – Pare

Suasana Pelatihan di Jepara

Pada pelatihan tahap pertama ini, para peserta diberikan materi pengenalan OSM dan bagaimana cara memetakan menggunakan Java OpenStreetMap (JOSM). Selain itu, peserta juga diajarkan bagaimana melakukan pengambilan data lapang menggunakan GPS, OSM Tracker dan juga Field Papers. Tidak hanya melakukan pemetaan di dalam ruangan, para peserta juga melakukan kegiatan survey lapang di hari kedua. Kegiatan survey lapang ini bertujuan untuk memetakan beberapa fasilitas umum yang ada di sekitar lokasi pelatihan.

Kegiatan survey lapang di Pare – Pare

Kegiatan Survey Lapang di Jepara

Tidak hanya diberikan materi pembelajaran, para peserta juga diajak untuk mengikuti kegiatan Mini Mapathon. Mini  Mapathon sendiri adalah kegiatan perlombaan pemetaan yang bertujuan untuk menarik minat para peserta pemula untuk mulai melakukan pemetaan di daerah yang telah ditentukan. Kegiatan Mini Mapathon ini akan diselenggarakan selama 2 minggu, dimulai dari pelatihan ini selesai diadakan.

Di akhir kegiatan pelatihan, para peserta diberikan demonstrasi singkat mengenai penggunaan QGIS dan InaSAFE untuk menghitung dampak dari suatu bencana yang terjadi. Diharapkan dengan melihat demonstrasi dari InaSAFE ini, para peserta akan semakin tertarik untuk mengikuti pelatihan tahap selanjutnya.

Foto bersama seluruh peserta di Jepara

Adhitya Dido
Adhitya Dido
Mapping Supervisor of Humanitarian Openstreetmap Team Indonesia.

Comments are closed.