OpenStreetMap dan InaSAFE dalam Penyusunan Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan

Dasar Hukum dan Pentingnya Dokumen Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan

Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No. 27/PRT/M/2015 pasal 2 dinyatakan bahwa Pembangunan Bendungan dan Pengelolaannya harus dilaksanakan berdasarkan pada Konsepsi Keamanan Bendungan yang terdiri dari 3 pilar utama, dimana salah satu poin utamanya adalah menyangkut kepada aspek kesiapsiagaan tindak darurat. Untuk mendukung penerapan pilar tersebut, maka diperlukan adanya kajian terhadap dokumen yang memuat kandungan konsep keamanan bendungan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melaksanakan suatu program bertajuk Dam Operational Improvement and Safety Project (DOISP). Salah satu kajian yang perlu dilakukan dalam program DOISP tersebut adalah kajian terhadap dokumen Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan. RTD akan dilakukan sebagai salah satu persyaratan izin operasi bendungan yang berfungsi untuk mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan baik secara materil maupun korban jiwa apabila terjadi bencana keruntuhan bendungan di suatu wilayah.

 

InaSAFE dan OpenStreetMap

Saat ini telah tersedia sebuah perangkat lunak yang dapat memudahkan bagi para pegiat kebencanaan untuk mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari suatu bencana yaitu InaSAFE. InaSAFE (Indonesian Scenario Assessment for Emergencies) merupakan sebuah plugin atau perangkat tambahan yang khusus tersedia pada aplikasi pemetaan Quantum GIS (QGIS). Dengan adanya InaSAFE, dapat diketahui besaran dampak dari sebuah bencana mulai dari jumlah penduduk terdampak hingga kebutuhan minimum yang diperlukan apabila suatu bencana terjadi.

Untuk dapat menjalankan analisis InaSAFE, diperlukan data-data pendukung yaitu data bencana (hazard), data keterpaparan (exposure), dan data agregasi. Ketiga data tersebut nantinya akan dijalankan analisis dengan menggunakan InaSAFE sehingga akan menghasilkan beberapa informasi dampak bencana dalam bentuk tabel, peta, dan infografis.

Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan analisis InaSAFE adalah ketersediaan data keterpaparan atau data objek terdampak bencana, baik data infrastruktur maupun data kependudukan. Untuk itu, perlu dilakukan sebuah kegiatan pengumpulan data mengenai jumlah infrastruktur serta penduduk yang ada pada daerah terdampak bencana. Pengumpulan data secara partisipatif dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah platform pemetaan bersifat gratis dan juga terbuka bernama OpenStreetMap (OSM). OSM memungkinkan siapapun untuk melakukan pemetaan dan pengumpulan data lapangan untuk objek-objek penting yang berpotensi terkena dampak bencana seperti data fasilitas umum, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, jalan, bangunan rumah, dan sebagainya.

Data kependudukan dikumpulkan dengan metode survei door to door untuk mengumpulkan informasi jumlah penduduk yang ada di setiap rumah serta titik lokasi dimana bangunan tersebut berada. Nantinya data-data penduduk ini akan digabungkan dengan data-data bangunan yang telah dipetakan di OSM, sehingga akan dapat dilakukan analisis bencana terhadap penduduk yang tinggal di sekitar wilayah bencana.

 

Lokasi dan Pelaksanaan Pemetaan

Lokasi pemetaan terletak di bendungan-bendungan yang merupakan bendungan prioritas program DOISP. Karakteristik bendungan yang dipilih harus mewakili karakteristik wilayah perkotaan (urban) dan karakteristik wilayah pedesaan, yaitu:

  1. Bendungan Situ Gintung,  Tangerang Selatan, Banten
  2. Bendungan Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah

Kegiatan pemetaan Bendungan Gintung dilaksanakan pada 29 April hingga 3 Mei 2019, sedangkan pemetaan Bendungan Cengklik dilaksanakan pada 10-16 Juni 2019.

 

Pemetaan Bendungan Gintung

Pemetaan dilaksanakan di 4 RW yang ada di Kelurahan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan. Pemilihan 5 RW ini berdasarkan kepada dokumen RTD Bendungan Gintung tahun 2010 dan berdasarkan keterangan pengawas Bendungan Gintung. Survei penduduk dilakukan oleh 5 orang surveyor yang berasal dari Universitas Indonesia.

Wilayah Survei Bendungan Gintung

Kegiatan survei difokuskan pada survei penduduk dikarenakan data infrastruktur dan bangunan yang ada di Bendungan Gintung telah lengkap dipetakan di OpenStreetMap. Masing-masing surveyor diberikan waktu 5 hari untuk mengumpulkan data jumlah penduduk yang tinggal di setiap rumah di wilayah surveinya masing-masing.

Dokumentasi Kegiatan Survei Bendungan Gintung

 

Hasil Pemetaan Situ Gintung

Hasil Analisis InaSAFE Bendungan Situ Gintung

Setelah 5 hari dilakukan survei, dilakukan analisis InaSAFE terhadap data-data penduduk dan data ancaman bencana jebol bendungan di Bendungan Gintung. Hasil yang didapat adalah sebagai berikut:

Kiri: Jumlah penduduk mengungsi berdasarkan usia; Kanan: Jumlah kebutuhan minimum untuk penduduk terdampak

 

Infografis yang dihasilkan dari analisis InaSAFE untuk penduduk terdampak bencana jebol bendungan di Bendungan Gintung

 

Pemetaan Bendungan Cengklik

Survei dilakukan di Desa Ngargorejo dan Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan berdasarkan kriteria lokasi desa yang terletak berdekatan dengan lokasi Bendungan Cengklik. Selain itu pemilihan lokasi tersebut dilakukan berdasarkan acuan wilayah terdampak bencana jebol Bendungan Cengklik.

Wilayah survei Bendungan Cengklik

Data OSM yang ada di Desa Ngargorejo dan Desa Ngesrep belum terlalu lengkap pada saat sebelum survei dimulai. Oleh karena itu, selain mengumpulkan data penduduk, kegiatan survei juga difokuskan untuk mengumpulkan data infrastruktur yang ada di masing-masing desa, seperti titik-titik sekolah, posyandu, rumah ibadah, kantor desa, dan sebagainya.

Kegiatan pengumpulan data dilakukan oleh 10 orang surveyor yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Untuk mempermudah kegiatan pengumpulan data, para surveyor ditemani oleh satu orang warga lokal yang bertugas untuk memandu surveyor dalam pengumpulan data.

Dokumentasi kegiatan survei Bendungan Cengklik

Hasil Pemetaan Situ Gintung

Setelah 6 hari survey dilakukan, secara keseluruhan wilayah survei dapat dikumpulkan seluruh datanya dengan lengkap. Setelah dilakukan analisis menggunakan InaSAFE, hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Hasil analisis InaSAFE untuk Bendungan Cengklik

Tabel jumlah penduduk mengungsi di sekitar Bendungan Cengklik

 

Tabel kebutuhan minimum yang diperlukan pengungsi di Bendungan Cengklik

 

 

Kesimpulan

OpenStreetMap dan InaSAFE dapat digunakan dalam hal kebencanaan. InaSAFE dapat digunakan untuk menganalisa kemungkinan dampak bencana yang terjadi. Untuk dapat menjalankan InaSAFE, selain membutuhkan data bencana InaSAFE juga membutuhkan data objek yang terdampak atau data keterpaparan, baik itu  infrastruktur maupun penduduk. Untuk itu dilakukanlah pemetaan partisipatif menggunakan OpenStreetMap. Selain bencana jebol bendungan, InaSAFE juga dapat digunakan untuk melakukan kajian terhadap jenis bencana lain seperti banjir dan longsor.

Penyerahan peta desa ke pemerintah desa setempat. Peta tersebut dibuat berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan

 

Tertarik mengaplikasikan OSM dan InaSAFE untuk pemetaan dampak bencana? Hubungi kami di team.id@hotosm.org.

Adhitya Dido
Adhitya Dido
Mapping Supervisor of Humanitarian Openstreetmap Team Indonesia.

Comments are closed.