Mengintegrasikan Aplikasi “Geo Data Collect (GDC)” dan Platform “GIS Cloud” untuk Pelaporan Bencana

Pelaporan kejadian bencana merupakan salah satu komponen penting dalam manajemen bencana. Selain sebagai dasar penentuan respon bencana (tindakan/bantuan/sumberdaya apa yang perlu diturunkan ke lapangan), pelaporan kejadian bencana juga berfungsi sebagai rekapitulasi data sehingga kedepannya dapat dianalisis lebih lanjut pola kejadian bencana tersebut.Hingga saat ini, pelaporan kejadian bencana yang efektif dan efisien menjadi tantangan bagi hampir semua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kantor Penanggulangan Bencana dan Kebakaran (KPBK) Kota Administrasi Jakarta Barat, bekerja sama dengan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Wahana Visi Indonesia (WVI), dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia mengembangkan sistem pelaporan kejadian bencana dibawah payung project “Kaji Cepat Bencana DKI Jakarta”.

Aplikasi yang digunakan dalam project tersebut terdiri dari Geo Data Collect (GDC) dan GIS Cloud. GDC adalah aplikasi berbasis Android yang dikembangkan oleh HOT Indonesia untuk mengumpulkan data lapangan, baik berupa teks maupun gambar (foto); sedangkan GIS Cloud adalah platform pemetaan yang berfungsi untuk menyimpan dan mempublikasikan data-data spasial.

Bagaimana Cara Kerjanya ?

Pertama-tama, relawan harus mengunduh terlebih dahulu aplikasi GDC (sementara ini baru tersedia di Play Store). Kemudian, begitu terjadi bencana, relawan di tingkat kecamatan data ng ke lokasi dan melaporkan kejadian bencana menggunakan aplikasi GDC. Jenis bencana yang dapat dialporkan dengan GDC hingga saat ini yaitu bencana banjir, kebakaran, pohon tumbang, dan konflik sosial. Informasi yang dilaporkan tak hanya jenis dan lokasi kejadian bencana, namun juga identitas pelapor, informasi korban, bantuan diperlukan, penyebab kejadian bencana, dan respon instansi terkait.  Surveyor juga dapat melaporkan lokasi dan kondisi titik pengungsian, termasuk rincian pengungsi dan permintaan bantuan di titik pengungsian tersebut.  Hasil pelaporan para relawan tersimpan di server ona.io, karena form online yang digunakan pada GDC  tersimpan pada platform ona.io. Namun, data tersebut hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu dan harus login ke sistem ona.io.

Untuk membuat data tersebut dapat diaskes oleh masyarakat pada umumnya, data tersebut harus dipublikasikan menggunakan aplikasi/platform pemetaan online yang terpisah dari ona.io. GIS Cloud memainkan peran penting dalam hal ini. Pertama-tama, data yang tersimpan pada platform ona.io diundauh dalam format CSV, dikonversi menjadi format SHP menggunakan software QGIS, dan akhirnya peta SHP diunggah ke GIS Cloud. Peta yang dipublikasikan oleh GIS Cloud selanjutnya dipasang pada  situs KPBK Jakarta Barat dan dapat diakses secara bebas, baik oleh jajaran pemerintahan, maupun masyarakat pada umumnya.

Dengan mengintegrasikan kedua aplikasi/platform ini, pelaporan kejadian bencana menjadi lebih cepat dan akurat, sehingga respon bencana pun akan lebih cepat dan akurat, serta makin banyak yang dapat diselamatkan. Masyarakat juga dapat mengetahui bencana apa yang tengah terjadi di sekitar mereka, sehingga masyarakat pun dapat lebih waspada. Diagram berikut menggambarkan bagaimana sistem pelaporan ini bekerja.

Sistem Pelaporan Bencana dengan Geo Data Collet (GDC) dan GIS Cloud

Sistem Pelaporan Bencana dengan Geo Data Collet (GDC) dan GIS Cloud

elida
elida
GIS Trainer @Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia

2 Comments

  1. ahmad faizan bustomi berkata:

    selamat siang mb, apakah mb sudah mengkaji efektivitas penggunaan geodatacollect dan komputasi awan untuk pelaporan bencana?

    • elida berkata:

      Selamat siang, Ahmad Faizan Bustomi.

      Terimakasih atas kunjungannya ke situs HOT Indonesia.

      Saat ini, kami dari HOT belum pernah melakuan riset tersebut.
      GDC sendiri baru dirilis sekitar akhir tahun 2015, dan mulai digunakan oleh instansi kebencanaan pada awal 2016 oleh BPBD DKI Jakarta dan Wahana Visi Indonesia.
      Kami terbuka untuk melakukan kolaborasi kegiatan dan riset. Jika Ahmad Faizan Bustomi tertarik untuk melakukan riset tersebut, silakan berdiskusi lebih lanjut dengan kami melalui email team.id@hotosm.org