Terbukti

Tawa Tana, Penerus Tradisi Musik Etnik Sikka

12:41 Apr 27 2017 Waiara Kec.Kewapante Kab.Sikka - Flores - NTT

Tawa Tana, Penerus Tradisi Musik Etnik Sikka
Gambaran
Siang hari itu tahun 1999, gelombang pantai Waiara Maumere Flores Nusa Tenggara Timur seperti biasa bergulung berulang seperti biasa. Dari kejauhan tampak sepotong kayu hanyut yang datang entah dari mana rimba terapung timbul tenggelam. Perlahan kayu itu mendekat dihempas arus, kemudian terdapampar di pesisir berpasir hitam itu.

Entah mengapa, Herman seorang pemuda kelahiran Waiara yang kebetulan melintas, dipaksa menunggu sampai sepotong kayu itu benar-benar menepi. Energi kreatif, daya imajinya kemudian mendorongnya untuk “ambil sepotong kayu itu dan membentuknya menjadi segambar dan serupa mimpimu”.

“Bapa, saya ada dapat satu potong kayu di pantai Waiara dan saya mau membuatnya menjadi ukulele (gitar kecil)”. Kisah Herman kepada Stanislaus Nong, salah satu pelaku music etnik Sikka, yang kebetulan adalah gurunya. Bapa Stanis, demikian ia biasa disapa yang sekarang sudah almarhum, menyambut niat muridnya dengan gembira.

Menanggapi respon positif tersebut dan didorong daya kreasi dan ambisi imaji, Herman membentuk-jadi-kan sepotong kayu hanyut itu menjadi dua buah ukulele “Saya buat sendiri, ya ala kadarnya, karena saya suka sekali dengan music” kisahnya. “Mulai dari situ, dengan ukulele yang ada, saya dan beberapa kawan yang sama-sama minat di music kami buat satu grup”.

Pada tahun yang sama lahirlah ‘Ban Boler’ sebuah grup music yang merangkum kisah mula-mula kemunculan sepotong kayu hanyut itu. ‘Ban’ dari kata bahasa Sikka ‘ba’ yang berarti ‘mengalir dan ‘Boler’ atau ‘Baler’ yang berarti ‘kembali atau balik’. Ban Boler dengan demikian menunjuk pada sepotong kayu yang yang dibawa arus sungai dari darat ke laut, kemudian kayu yang sama kembali menepi ke darat.

Kisah yang dikemas dalam ‘Ban Boler’ inilah yang menjadi visi dasar grup music Herman dan kawan-kawan. “Apa pun jenis music yang kita mainkan, seberapa besar pengetahuan kita tentang music, namun yang pasti bahwa kita akan kembali kepada music kita sendiri, music etnik kita” imbuhnya.

Namun, dalam perjalanan waktu ‘Ban Boler’ pecah. Personelnya berantakan “banyak yang sibuk dan kami tidak kompak” kata Herman lebih lanjut. “Lalu kami membentuk lagi grup music yang masih dengan aliran yang sama”

Tahun 2002, Herman bersama dengan mantan pentolan ‘Ban Boler’ seperti Gen, manis dan Awa akhirnya merangkul Pieter, murid Stanislaus Nong yang lain untuk membentuk grup music baru. Lahirlah ‘Tawa Tana’ sebuah grup music etnik yang sampai sekarang tetap eksis di tengah gempuran aliran music modern.

Digawangi Pieter sebagai pemimpin grup dengan personelnya Herman, Gen, Manis, Awa, Loar, Ande dan Tesen music etnik Sikka kembali-coba dibangkitkan. Salah satu lagu rakyat Sikka yang dipopulerkan oleh ‘Tana Tawa’ adalah Nian Ina Tana Wawa. Dengan hanya bermodalkan sebuah gitar bass besar, dua banjol, dua ukulele, sebuah gitar dan sebuah caka raka mereka hadir dan tampil di mana saja “Seni dan budaya itu masuk ke mana saja” Kata Pieter sambil tertawa kecil.

Pada 2010 ‘Tawa Tana’ mendapatkan kehormatan sebagai salah satu kelompok music etnik dari NTT yang turut mengambil bagian dalam acara Solo International Contemporary Etnic Music di Solo.

“Musik etnik banyak yang tidak diminati karena memikul tanggung jawab besar, yakni menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang bukan hanya nyaris punah tetapi juga yang sudah punah, dan itu tidak mudah” Jelas Pieter. Jadi, kata Pieter lebih lanjut, “Di Maumere kelompok atau grup music beraliran etnik bisa dihitung dengan jari, mungkin dua atau tiga saja”. Katanya sambil menyebut ‘Bunga Kelan’ sebuah grup music etnik Sikka yang diasuh pemerintah daerah Sikka.
Kepercayaan: UP DOWN 0

Laporan Tambahan

SANGGAR SENI DAN BUDAYA BLIRAN SINA WATUBLAPI

12:36 Apr 27, 2017

Kampung Watublapi, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang - Kab.Sikka - Flores-NTT, 5.43 Kms

Jong Dobo

17:22 Apr 26, 2017

Desa Iyantena Kec.Kangae Kab Sikka - Flores - NTT, 5.78 Kms

Dukungan Terapi Pasir Pantai bagi Anak Berkebutuhan Khusus / Difabel

13:00 Apr 27, 2017

Wairhubing Beach, Maumere - Flores Indonesia, 6.5 Kms

Terminal Lokaria

10:32 Apr 27, 2017

Sikka, 7.61 Kms

Masjid Muhammadiyah Waioti Maumere

11:46 Apr 27, 2017

Jl. Jendral Sudirman Waioti Maumere, 8.37 Kms