Terbukti

PATUNG KRISTUS RAJA MAUMERE

11:02 Apr 27 2017 Jl.Mgr Soegyopranoto Kel.Kota Uneng Kec.Alok Maumere-Flores-NTT

Gambaran
“Penjaga Kota Maumere adalah sebuah patung Kristus yang berarna putih, sangat bagus dan hidup. Di pagi hari ketika sinar lembut menimpalinya, patung itu tampak keramat, persis seperti patung Katedral Ende yang diterangi cahaya lilin. Akan tetapi, situasi keramat sekelilingku sekarang mendapat amukan perang. Kegiatan perang yang memanikkan telah menyelinap masuk kewilayah keramat dan tenteram sekitar penjaga Kota Maumere.”



Patung Kristus yang dikagumi Kapten Tasuku Sato itu adalah salah satu tonggak sejarah dari karya kerasulan Don Yosephus Ximenes da Silva (1895 – 1954), Raja Sikka ke – 15 (1920 – 1954).
Pada tahun 1926 sang raja yang genius dan brilian itu menyediakan sebidang kecil tanah lapang di Kota Maumere ( kini menjadi Taman Kristus Raja, Jl Mgr Soegijopranata, SJ, atau pernah dikenal sebagai Lapangan Tugu), untuk diletakkan Patung Kristus Raja. Patung itu dibeli dengan dana yang dihimpun secara bergotong royong oleh seluruh umat Khatolik Kerajaan Sikka. Patung yang indah ini, kata orang yang didalam zamannya pernah melihatnya, diletakkan dibagian selatan lapangan, disisi timur diberkati Mgr Arnoldus Vestraellen, SVD, Vicaris Apostolic Soenda Ketjil, dalam perayaan misa pada tahun yang sama (1926).

Mendahului kehadiran patung Kristus Raja tersebut, pada tahun 1925 terbit “Kristus Raja Itang (KRI), majalah bulanan berbahasa Sikka yang dipimpin dan dikelolah Pater Grootmann, SVD, Pastor Paroki Nele. Ukurannya 21x14,8 cm. Isinya antara lain soal agama, hal-hal praktis pastoral, sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan, berita-berita daerah, paroki dan masalah nasional/internasional. KRI lenyap dari peredaran pada desember 1938 (Agus Sape, Perjalanan Pers di NTT, dalam buku 15 tahun Pos Kupang, Penerbit Timor Media Grafika, Kupang, 2007).

Namun sayang, patung yang menjadi lambang kekatolikan penduduk Kota Maumere dan sekaligus pelindung kota ini hancur lebur dihantam bom Sekutu pada akhir Perang Dunia II (1944). Kehadiran penguasa Jepang di Pulau Flores telah mengundang incaran Sekutu. Kota Maumere yang enjadi basis pertahanan Angatan Perang Kerajaan Jepang, diarahkan sebagai mangsa dan sasaran pemboman.
Menutut catatan Mo’ang D.D Kondi Pareira, seorang pejabat Kerajaan Sikka dalam manuskripnya “Hikayat Kerajaan Sikka” , ‘Bahwa pada tanggal 23 Januari 1944 Sekutu menjatuhkan bom pertama kali, merusakan Toko Batu, Kolo Liong dan Toko Makasar (ketika itu ketiga toko ini terletak dalam jejeran rumah tinggal Don P.C.X. da Silva ke utara, sebelah timur Taman Kristus Raja sekarang). Tercatat dua orang meninggal dan banyak yang terkena cedera ringan.

Banyak orang sangat yakin bahwa patung Kristus Raja juga hancur terkena bom. Pada tahun limapuluhan sampai awal sembilanpuluhan masih tampak sepenggal lantai semen sedikit ketinggian dimana patung itu diletakkan. Disitu saya pernah berdiri menyanyikan lagu “ovos’ pada perarakan Jumad Agung (ketika saya di bangku SMPK Yapenthom Maumere, 1953-1956), kini penggalan lantai semen itu telah dibongkar, hilang tak berbekas.
Kepercayaan: UP DOWN -7

Laporan Tambahan

Titik Ancaman Banjir Muara Pantai Maumere

13:25 Apr 27, 2017

Muara pantai Maumere, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 0.14 Kms

Gereja Katedral St. Yosep Maumere

11:33 Apr 27, 2017

Jl. Mgr Soegiopranoto Kelurahan Kotauneng Maumere, 0.21 Kms

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Maumere

10:59 Apr 27, 2017

Sikka, 0.23 Kms

Sistem Peringatan Dini Tsunami

09:38 Apr 27, 2017

Jln. Mgr. Sugiyopranoto No 1 Maumere, 0.25 Kms

Pertemuan Forum PRB Sikka

12:22 Apr 27, 2017

Jln. Mgr. Sugyopranoto Maumere, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 0.26 Kms