Terbukti

LAPORAN PROSES DAN HASIL REFRESH TRAINING FOCAL POINT

08:16 Apr 27 2017 Kantor CKM

Gambaran
I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seringkali tidak menyadari bahwa ancaman dan tingkat risiko bencan dapat terjadi kapan saja. Bencana apapaun yang terjadi pasti akan bedampak buruk dan menimbulkan penurunan kualitas hidup masyarakat. Idealnya masyarakat mesti memiliki kemampuan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Sehingga risiko-risiko yang ditimbulkan oleh bencana dapat ditekan seminimal mungkin.
Salah satu upaya meningkakan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana. Sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang daerah rawan bencana, kelompok yang paling rentan terkena bencana agar masyarakat mampu melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana.
Dalam program Min Funding, Caritas Keuskupan Maumere berupaya mendukung masyarakat untuk mampu menghadapi bencana dengan kegiatan sistem peringatan dini berbasis kawasan di DAS Dagesime. Kegiatan ini telah dijalankan dalam program Partners for Resilience (PfR). Dalam program Min Funding, CKM dalam kerjasama dengan PMI Sikka kembali memperkuat relawan-relawan desa yang menjadi focal point demi menjawab hasil evaluasi pengalaman banjir bulan Januari 2016 yang belum dapat “di-antisipasi” secara baik.
Focal point yang berasal dari hulu sampai ke hilir disegarkan kembali dengan materi tentang sistem peringatan dini sampai dengan cara penggunaan dan perawatan radio komunikasi. Selain itu pihak BPBD Sikka terlibat juga untuk memberi informasi sehubungan dengan mekanisme penanggulangan bencana dari sisi pemerintah. Sehingga pemahaman focal point lebih holistik tentang upaya pengurangan risiko bencana.

B.Tujuan Kegiatan
1.Peningkatan kapasitas, dalam hal ini pengetahuan dan keterampilan focal point terkait sistem peringatan dini berbasis kawasan DAS Dagesime Magepanda
2.Peningkatan pengetahuan dan keterampilan focal point terkait cara penggunaaan radio komunikasi
3.Penyatuan persepsi tentang sistem peringaan dini berbasis kawasan DAS Dagesime antara CKM, PMI, dan pihak BPBD.

C. Output Kegiatan
Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah:
1.Focal point memahami alur sistem peringatan dini berbasis kawasan DAS Dagesime.
2.Focal point memahami cara penggunaan dan perawatan HT dan Rig.

D.Metodologi Kegiatan
Metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini:
1.Ceramah
2.Curah pendapat
3.Praktek dan simulasi

E.Peserta Kegiatan
Kegiatan ini melibatkan 10 orang focal point yang berasal dari 5 desa.

F. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan pada:
Hari/ tanggal : Kamis, 27 April 2016
Tempat : Aula Puspas - Maumere
Waktu : Pkl. 08.30 - 16.30 wita

G. Agenda Kegiatan
No Waktu Kegiatan
1.08.30 - 09.00 Pembukaan dan perkenalan
2.09.00 - 09.30 Sistem Peringatan Dini Berbasis Masyarakat
3.09.30 - 10.00 Sistem Peringatan Dini Berbasis Masyarakat
4.10.00 - 10.15 Coffee Break
5.10.00 - 10.30 Sistem Penaggulangan Bencana Pemerintah (BPBD)
6.10.30 - 11.00 Sistem Penanggulangan Bencana Pemerintah (BPBD)
7.11.00 - 12.00 Pengenalan Radio (HT dan Rig)
8.12.00 - 13.00 Istirahat
9.13.00 - 15.00 Mekanisme Komunikasi Radio dan Praktek penggunaan radio
10.15.00 - 15.15 Istirahat
11.15.15 - 16.00 Praktek penggunaan radio dan ujian
12.16.00 – 16.30 Penutup

II.PROSES DAN HASIL
1.Pembukaan :
-Pengantar dan pembukaan oleh Koordinator program. Dalam sambutan disampaikan bahwa kegiatan ini merupakan penyegaran bagi focal point sistem peringatan dini berbasis kawasan DAS Dagesime. Koordinator mengharapkan agar peserta dapat mengikuti proses dengan baik sehingga mampu menerapkan sesuai dengan prosedur yang tepat di lapangan.
-Selain keterampilan menggunakan HT dan berkomunikasi, dalam kegiatan refresh ini akan dibicarakan pula bagaimana membangun kesepakatan bersama BPBD sehubungan dengan perijinan/ call sign bagi peserta. Dengan kehadiran Kalak BPBD besar harapan agar persoalan terkait perijinan dapat dituntaskan.

2.Materi :
PMI:
-Pada tahap awal fasilitator menyampaikan tentang konsep dasar menghubungkan wilayah Hulu – Tengah – dan Hilir. Disinggung bahwa informasi tidak mungkin disampaikan dengan “suara” karena jarak yang jauh. Menggunakan motor pun tidak mungkin karena akses jalan yang buruk, sehingga dalam kegiatan sistem peringatan dini sebagai upaya meminimalisisr risiko bencana alur komunikasi dari Hulu ke Hilir sampai dengan saat ini hanya dapat dilaksanakan dengan radio komunikasi, yakni HT dan Rig.
-Selanjutnya fasilitator menyampaikan alur sistem peringatan dini. Alur dimulai dengan sumber informasi dari pihak berwewenang atau sumber terpecaya lainnya seperti BMKG, PVMBG, media (cetak dan elektronik), masyarakat (pencataa curah hujan, TSBD, SIBAT), Pemerintah desa, dan sumber lain yang terpercaya. Informasi yang diperoleh kemudian ditrianggulasi. Setelah triangulasi dan konfirmasi melalui kompilasi data selanjutnya adalah penentuan dampak. Penentuan dampak akan berkaitan dengan tindakan atau aksi yang akan dilakukan berdasarkan peluang apakah akan terjadi bencana atau tidak terjadinya bencana. Setelah selesai penentuan dampak, langkah selanjutnya adalah distribusi informasi kepada pihak terkait/ pihak yang membutuhkan.
- Agar Sistem peringatan dini dapat berjalan dengan baik minimal ada 3 komponen, yakni (1.) Pengelolaan Informasi, (2.) Diseminasi lewat simbol, modern alarm, dan tradisional alarm, (3.) Kesadaran masyarakat.
- Focal point tidak hanya bertugas sebagai penerima informasi dan penerus informasi, namun mesti bertindak juga sebagai pihak yang melakukan aksi dini bersama masyarakat dalam merespon informasi bencana.

Cara penggunaan radio komunikasi (HT)
Dalam praktek penggunaan HT, merk yang digunakan adalah ICOM C-V80. Beberapa alur penggunaan HT antara lain:
1.Membuka Kunci Frekuensi : “*” + (tekan tahan) “FUNC”
2.Merubah Frekuensi : tekan “FUNC”
3.Tanda “+” / “-“ : frekuensi DUMPLEX ( Repeater )
4.Mengilangkan tanda “+” / ”-“ : tekan “FUNC” + tekan DUP (Angka 4)
5.Setelah tanda hilang maka komunikasi bisa dilakukan.
6.Berbicara dan Mendengar dalam 1 frekuensi dinamakan DIRECT ( Frekuensi Lokal )
7.Berbicara dan Mendengar dalam 2 Frekuensi dinamakan DUMPLEX ( Repeater )

Merubah ke Frekuensi Repeater
1.Mendengar : 164.775; Berbicara : 169.775;
2.Pada HT ketik angka 164.775 ( Untuk mendengar )
3.Untuk bicara Tekan “FUNC” + tekan SET (Angka 8)
4.Angka “300” di rubah menjadi “500” : Putar Volume atau Tekan arah “atas” / “bawah”
5.Setelah selesai : Tekan Tombol “PTT” ( Samping Kiri )
6.Tekan “FUNC” + tekan DUP (Angka 4) sampai tanda “+” muncul didepan frekuensi

Merubah Frekuensi Lokal
1.Untuk bicara dalam frekuensi lokal dengan menghilangkan tanda (+) dan tanda (– )
2.Caranya dengan tekan “FUNC” lalu “DUP”
3.Untuk merubah ketinggian frekuensi : Tekan “FUNC” + tekan H/M/L ( angka 9 )
4.Kemudian dikunci dengan tekan “FUNC” lalu “ENT”

Materi Kalak BPBD:
-Kalak membuka materi dengan refresh pemahaman manajemen bencana, mulai dari PRA, SAAT, dan PASCA bencana. PRA merujuk pada Peringatan Dini, Kesiapasiagaan, dan Penguatan Kelembagaan msyarakat. SAAT lebih pada Siaga Darurat, Tanggap Darurat, Transisi. Dan PASCA lebih pada rekonstruksi dan pemulihan.
- Mengerucut pada Peringatan dini dan radio komunikasi disampaikan bahwa BPBD merencanakan membangun satu lagi repiter di Ilinwengot. Di Sikka pun ada alat peringatan Tsunami yang ditempatkan di Keuskupan lama.
- Upaya BPBD sampai tahun 2018 adalah fokus pada kesiapsiagaan dan Peringatan Dini.
- Dalam diskusi muncul pertanyaan dari Pak Yuven (koordinaor Program) tentang perijinan radio milik CKM yang akan diserahkan ke desa dampingan. Jawaban dari Kalak bahwa radio CKM dapat “diikusertakan” dalam data BPBD karena ini menyangkut kesiapsiagaan. Teknisnya dapat berhubungan dengan Kabid Kesiapsiagaan.
- Pada bagian akhir Kalak BPBD menyampaikan kembali terima kasih untuk CKM yang telah memfasilitasi kegiatan dan mengharapkan agar relawan CKM dapat mendukung kegiatan kesiapsiagaan pemerintah.

Lanjutan Materi PMI
- Materi berikutnya yang disampaikan oleh PMI adalah mekanisme dan etika komunikasi dengan menggunakan HT
- Selain itu diajarkan tentang alphabeth internasional dan kode 11 dalam bencana
- Pada bagaian akhir dilakukan ujian bagi peserta. Ujian lebih pada teknis mengatur frekuensi HT. Secara umum peserta dapat melaksanakan ujian praktek tersebut dengan baik.

3.Penutupan
- Penutupan langsung dilakukan oleh koordinator program
- Koordinator menyampaikan agar peserta benar-benar harus mempelajari kembali materi yang diberikan. Simulasi yang direncanakan dilaksanakan pada akhir Mei 2016 menjadi acuan kesiapsiagaan di desa masing-masing.
Data Tambahan
Penanggung jawab kegiatan: Van Paji Pesa
Mitra: BPBD Kab. Sikka dan PMI Kab. Sikka
Donatur: Karina Yogya
Jumlah dana: Rp. 48.300.000
Wilayah kerja: Kecamatan Magepanda (Desa Done, Desa Reroroja, Desa Magepanda, Desa Kolisia B) Kecamatan Mego (Desa Parabubu, Desa Gera, Desa Liakutu)
Durasi program: 22 Bulan (Maret 2016 - Desember 2017)
Total jumlah peserta: 10
Peserta laki-laki: 10
Peserta perempuan: 0
Jenis Penerima Manfaat: Langsung
Peserta: Masyarakat,Pemerintah,NGO,Lainnya

Kepercayaan: UP DOWN 0

Laporan Tambahan

Gereja St. Thomas Morus Maumere

12:56 Apr 27, 2017

Jl. Soekarno Hatta Maumere, 0.06 Kms

Universitas Nusa Nipa Maumere

12:03 Apr 27, 2017

Jl. Kesehatan Maumere, 0.24 Kms

Gereja Kalvari Maumere

11:39 Apr 27, 2017

Jl. Pos, Kelurahan Kotabaru, Maumere, 0.38 Kms

Kantor Polisi Resort Sikka

12:10 Apr 27, 2017

Jl. Ahmad Yani Maumere, 0.41 Kms

Sumber Mata Air Wai Nuka, Desa Kloangpopot

10:39 Apr 27, 2017

Kecamatan Doreng-Desa Kloangpopot, 0.45 Kms