Lokakarya II Kajian Risiko Bencana di Sulawesi Selatan

Pelatihan dan Lokakarya Kajian Risiko Bencana di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan kegiatan ke 3 dan sekaligus lanjutan dari kegiatan penentuan wilayah prioritas pemetaan bencana serta pembuatan data kapasitas dan kerentanan serta kegiatan pemetaan lapangan di wilayah prioritas tersebut. Secara spesifik, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan pengkajian risiko bencana, pengumpulan data keterpaparan wilayah rawan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan dan pemanfaatan QGIS serta InaSAFE dalam kajian risiko bencana. Pelatihan dan lokakarya ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh, mulai dari tahap persiapan dan pengumpulan data hingga analisis dan pemaknaan hasil dari kajian risiko bencana tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 8 – 10 Juni 2015 di Hotel Swiss Belinn, Makassar. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta yang terdiri dari berbagai pihak seperti BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Departemen Kesehatan, BMKG, Commit dan Akademisi dari Universitas Hasanuddin, Universitas 45 dan Universitas Negeri Makassar. Sebagian peserta merupakan peserta yang telah ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Kegiatan hari pertama dimulai pada pukul 10.00 WITA dan diisi oleh pembukaan dari Bapak Buttu Ma’dika selaku CDSP di Sulawesi Selatan. Pada pembukaan ini Bapak Buttu menjelaskan tentang pentingnya kegiatan kajian risiko bencana di Provinsi Sulawesi Selatan ini. Selain itu beliau juga memberikan pengertian dan gambaran kepada para peserta tentang alur kegiatan pembuatan kajian risiko ini sampai selesai.

Selanjutnya, materi kedua diisi oleh Ranie Dwi Anugrah selaku fasilitator dari HOT yang dari kegiatan awal telah mendampingi sebagian besar peserta. Materi yang disampaikan adalah pemaparan tentang kegiatan pemetaan lapangan di wilayah prioritas khususnya di DAS Jeneberang. Setelah itu materi selanjutnya adalah melengkapi dan menyelesaikan data-data kapasitas serta kerentanan di Provinsi Sulawesi Selatan yang telah diolah pada kegiatan pertama menggunakan data Potensi Desa Provinsi Sulawesi Selatan 2011.

Lokakarya 2

Materi terakhir pada hari pertama adalah pengantar untuk pembuatan Peta Ancaman oleh Harry Mahardhika Machmud dari HOT. Pengantar ini memberikan gambaran kepada para peserta tentang bagaimana data ancaman tersebut didapatkan serta apa pentingnya mereka membuat peta ancaman dalam kajian risiko bencana. Selain itu, kegiatan terakhir ini adalah menyamakan serta mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam membuat peta ancaman kepada para peserta.

Kegiatan hari kedua ini dimulai pada pukul 09.00 WITA dengan pembuatan peta ancaman dimana terdapat 2 ancaman yang akan dibuat, yaitu Peta Ancaman Kekeringan serta Peta Ancaman Banjir. Sebelum memulai pembuatan peta ancaman tersebut para peserta bersama dengan fasilitator bersama-sama menyepakati parameter-parameter yang akan digunakan. Hal ini juga disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan data yang ada.

Setalah parameter-parameter yang dibutuhkan telah disepakati maka para peserta langsung membuat Peta Ancaman Kekeringan terlebih dahulu. Pembuatan peta ini berlangsung hingga pukul 12.00 hingga istirahat siang. Setelah makan siang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Peta Ancaman Banjir. Untuk peta ancaman yang akan dibuat dalam kegiatan ini sendiri itu sebanyak 6 ancaman dimana selain kekeringan dan banjir, ada juga ancaman gempa bumi, longsor, puting beliung dan kebakaran. Untuk Peta Ancaman Gempa Bumi dan Longsor, mereka sudah mendapatkan datanya dan Peta Ancaman Puting Beliung dan Kebakaran diolah dari data kejadian bencana selama 3 tahun terakhir yang diolah oleh HOT.

Kegiatan selanjutnya adalah pembuatan peta risiko untuk masing-masing ancaman yang dimulai pada pukul 16.00 WIB. Agar pembuatan peta risiko untuk semua ancaman dapat diselesaikan dalam satu waktu, maka para peserta dibagi ke dalam 5 kelompok. Untuk ancaman banjir sendiri, belum dibuat peta risikonya menunggu peta ancaman selesai dibuat dan direncanakan dibuat peta risikonya pada hari 3. Kegiatan berikut berlangsung hingga pukul 18.00 WITA dan setiap kelompok berhasil menyelesaikan Peta Risiko mereka masing-masing.

Jpeg

Hari terakhir sekaligus hari penutupan dari kegiatan penyusunan Kajian Risiko Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan hari 3 ini dimulai dari pukul 09.30 dimana materi pertama adalah pembuatan Peta Risiko Banjir oleh semua kelompok yang data ancaman banjirnya telah dibuat oleh HOT. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 jam hingga pukul 11.30 yang kemudian dilanjutkan oleh materi Valuasi Risiko untuk masing-masing ancaman yang disampaikan oleh Fredy Chandra dari R&V AIFDR. Setelah itu, para peserta menghitung beberapa variabel yang terdapat di masing-masing zona risiko dalam ancaman mereka. Adapun varibel risiko yang digunakan antara lain penduduk terdampak, bangunan terdampak, permukiman terdampak, sawah, kebun, dan ladang.

Untuk perhitungan valuasi risiko penduduk dan bangunan terdampak, para peserta menggunakan InaSAFE sedangkan untuk untuk variabel lainnya para peserta menggunakan metode overlay masing-masing variabel dengan data ancaman kemudian dihitung di excel (Pivot Table) untuk kemudian menghasilkan data-data keterpaparan di masing-masing zona ancaman bencana. Kegiatan ini dilaksanakan hingga pukul 15.00 yang kemudian dilanjutkan materi layout peta yang dibawakan oleh Ranie Dwi Anugrah dari HOT sampai dengan pukul 17.30 WITA.

Peta_Risiko Longsor

Setelah itu kegiatan terakhir adalah diskusi tentang kebijakan teknis dan juga kebijakan administrasi yang harus dilakukan sebagai follow up dari kegiatan ini ke depannya dimana para peserta mendiskusikannya ke dalam 2 kelompok besar dan mempresentasikannya ke pada seluruh peserta.

Comments are closed.