Proyek Pemetaan Infrastruktur Vital HOT InAWARE Berelokasi ke Semarang

Di akhir tahun 2017, HOT merampungkan pemetaan infrastruktur vital di Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Spesialis data entri kami menyapu seluruh 44 kecamatan dan 267 kelurahan hanya dalam kurun waktu 6 bulan.  Sebagai hasil dari program ini, lebih dari 1.5 juta bangunan, 12 juta km jalan, 24,000 fasilitas publik kini terpetakan di OpenStreetMap (OSM). Jumlah bangunan terpetakan di Jakarta kini 33 kali lebih banyak sebelum proyek dimulai, dan 10,000 kilometer lebih panjang untuk jalan yang terpetakan. 

Gambar 1. Sebelum dan Sesudah InAWARE Pemetaan PDC Jakarta di Utan Kayu. Dokumentasi HOT.

Setelah menyelesaikan proyek di Jakarta, tim kami berelokasi di Semarang, kota keempat terbesar dan kelima terpadat penduduknya di Indonesia. Semarang juga masuk ke dalam daftar kota paling rentan bencana di Indonesia. Terdapat enam sungai besar yang melalui kota ini di satu sisi, dan di sisi lain Semarang berkedudukan dengan elevasi antara 0.75 hingga 348 meter di atas permukaan laut, membuat Semarang sangat rentan terhadap banjir dan tanah longsor. Di tahun 2014, misalnya, lebih dari 70% bagian kota tergenang air, secara signifikan menghambat produktivitas ekonomi (Detik, 2014).

Semarang terdiri atas 177 kelurahan, 26 di antaranya rentan banjir, dan 9 lagi sering mengalami tanah longsor. Kota dengan luas 26,510 hektar menampung lebih dari 1,5 juta penduduk. Semarang juga masuk ke dalam jajaran kota dengan kawasan kumuh tertinggi di Indonesia, dengan tingkat kemiskinan berkisar 86,700 penduduk tinggal di bawah garis kemiskinan (UNdata, 2010).

Gambar 2. Kota Semarang. Kredit Gambar: Reservasi.

Tim kami memetakan seluruh tapak bangunan dan jaringan jalan. Tim ini akan melakukan validasi, melalui survei lapangan, seluruh infrastruktur vital, mencakup bank; fasilitas komunikasi dan transportasi; sistem distribusi air dan listrik; stasiun pengisian bahan bakar; institusi publik, seperti sekolah, rumah ibadah, pasar tradisional, fasilitas kesehatan; layanan gawat darurat, seperti pos pemadam kebarakaran dan pos polisi; fasilitas olahraga dan rekreasi; gedung perkantoran pemerintah; dan sebagainya.  Tim ini juga akan mengumpulkan informasi batas administrasi di 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan, melalui konsultasi intensif dengan perwakilan kantor kecamatan. Kami juga akan mengidentifikasi tempat-tempat yang akan diperuntukkan sebagai titik kumpul pengungsian saat terjadi bencana, beserta sumber air terdekat, toilet umum, dan sebagainya. Informasi ini sangat diperlukan untuk perencanaan dan respon bencana yang lebih tanggap darurat. 

Kami menyesuaikan metode pengumpulan data sesuai dengan jenis infrastruktur yang tersedia di wilayah yang kami petakan. Beberapa gardu listrik di Semarang, misalnya, berukuran lebih kecil dengan yang sering kami temukan di Jakarta (lihat gambar 3 di bawah), karena gardu ini mengaliri listrik ke wilayah yang lebih kecil jangkauannya. Gardu listrik juga umumnya dibangun dalam bentuk tiang (portal dan cantol) dengan kapasitas 20,000 volts, tanpa sebelumnya melalui gardu beton dengan kapastias 200,000 volts terlebih dahulu yang lebih umum ditemukan di Jakarta. Ini berarti tim kami akan memetakan gardu listrik jenis ini sebagai titik, dan bukan bangunan. Beberapa rumah pompa dan pintu air juga terintegrasi dalam satu struktur bangunan (pintu pompa). Tim kami juga akan memetakan rumah pompa ini sebagai titik, dan bukan poligon (bangunan).

Gambar 3. Atribut infrastruktur yang berbeda ditemukan di Semarang. Dokumengtasi HOT.

Sebuah tim beranggotakan 20 orang akan menyisir seluruh jalanan sambil mengidentifikasi fasilitas umum. Menggunakan OpenMapKit yang terinstal di telepon genggam mereka, tim ini akan menambahkan informasi atribut pada fasum, seperti kapasitas bangunan, jumlah tingkatan, jenis struktur, lantai, dinding, dan atap. Di Semarang, tinggi lantai dasar ke tanah juga diukur untuk mengidentifikasi bangunan mana saja yang mungkin akan terdampak saat terjadi banjir. 

Gambar 4. Perencanaan waktu pemetaan di Semarang. Dokumentasi HOT.

Data yang dikumpulkan akan diintegrasikan sebagai lapisan OSM terpisah, pada perangkat penanggulangan bencana InAWARE. Menampilkan data terkait kebencanaan, berfungsi mengembangkan sistem peringatan dini dan pengambilan kebijakan di Indonesia. Dibiayai oleh U.S. Agency for International Development (USAID) Office for Foreign Disaster Assistance (OFDA) dan dikembangkan oleh Pacific Disaster Center (PDC), InAWARE juga didukung oleh Pemerintah Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

 

Gambar 5. Menambahkan data ketinggian lantai dasar yang akan diintegrasikan ke OSM. Dokumentasi HOT.
Biondi Sima
Biondi Sima
Biondi is a Communications Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied International Economic Policy and Sustainable Development in SciencesPo Paris and Peking University Beijing.

Comments are closed.