HOT Menyelesaikan Pemetaan Komprehensif Fasilitas Surabaya: Hasil dan Pembelajaran

Program pemetaan komprehensif Jakarta oleh Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia memasuki tahap penyelesaian akhir, HOT memaparkan beberapa pencapaian utama dan pembelajaran selama proyek berlangsung. HOT juga mengevaluasi tantangan dan hambatan yang dialami untuk kemudian mengantisipasinya untuk program pemetaan komprehensif selanjutnya di ibu kota sekaligus wilayah yang paling kompleks di Indonesia, Jakarta. Pemetaan ini merupakan bagian dari pelengkapan data infrastruktur, termasuk bangunan dan jalan yang kemudian diintegrasikan pada perangkat InAWARE: Sistem Peringatan Dini dan Pendukung Pengambilan Kebijakan untuk Pengelolaan Bencana di Indonesia. Program ini didanai oleh  USAID, Office of U.S. Foreign Disaster Assistance (OFDA) dan didukung oleh Universitas Hawaii: Pacific Disaster Centre (PDC) dan Massachusetts Institute of Technology (MIT): PetaBencana untuk mendukung pemerintah Indonesia: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Surabaya terdiri atas 31 Kecamatan, 154 Kelurahan dan 1,302 Rukun Warga (RW). Sebagai kota terpadat kedua di Indonesia, memetakan infrastruktur Surabaya–dari layanan kesehatan dan gawat darurat hingga fasilitas transportasi dan olahraga–membutuhkan upaya sistematis dan terpadu untuk memastikan seluruh wilayah terpetakan dan seluruh data terkumpul divalidasi. Metodologi pemetaan yang dipakai meliputi konsultasi dengan pemimpin lokal dan mengimpor informasi dan dataset yang telah dimiliki sebelumnya, memetakan jarak jauh menggunakan citra satelit, melakukan pelatihan mapathon dengan berkolaborasi bersama universitas lokal, serta servey lapangan untuk mengumpulkan informasi selengkapnya.

Memetakan wilayah seluas 350.54 km² bukanlah hal yang mudah. Pemukiman yang padat, hambatan dalam pengajuan izin survey, citra satelit resolusi rendah, titik GPS yang tidak akurat, musim penghujan, serta ambiguitas dalam pengklasifikasian jenis jalan, dan batas wilayah yang saling tumpang tindih merupakan beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh tim pengumpul data dan penjamin kualitas HOT. Untuk proyek selanjutnya di Jakarta, tantangan termasuk pengajuan izin survey sedini mungkin, kebutuhan citra berresolusi tinggi dari USAID GeoCenter atau bahkan melalui citra drone perlu diidentifikasi dan diselesaikan sebelum survey dimulai. HOT juga akan merekrut staff lokal tambahan (dua orang pengumpul data dan satu orang penjamin kualitas) dan melatih mereka dengan kemampuan melakukan survey dan menyusun data untuk, bersama dengan tim yang terbentuk sebelumnya, memetakan 44 kecamatan dan 267 kelurahan di Jakarta.

Walaupun dengan tantangan yang disebutkan di atas, HOT mampu memperoleh hasil pemetaan yang signifikan! Lebih dari 4,417 data bangunan dan  3,073,332.51 m jalan ditambahkan ke OpenStreetMap di Surabaya hanya dalam tenggat waktu 3 bulan saja. Metodologi pengoleksian data–menggunakan OpenMapKit dan GeoDataCollect (GDC)–serta struktur pembagian tugas dan alokasi tim secara sistematis untuk memasukkan seluruh wilayah dapat menjadi salah satu model best practice pemetaan untuk direplikasikan proyek pemetaan komprehensif lainnya, bukan hanya di Indonesia namun juga di negara lainnya yang memiliki konteks dan situasi yang serupa, semisal di sini. Berikut ini adalah detail jumlah fasilitas dan jaringan jalan yang dipetakan:

 

TENTANG PENJAMINAN KUALITAS

Selain mengukur kuantitas data yang diperoleh, salah satu bagian utama dari proyek ini adalah menjamin kualitas data di kota target mengalami peningkatan signifikan. Metode sederhana untuk membandingkan jumlah fitur terhadap jumlah error dan peringatan yang teridentifikasi melalui perangkat validasi JOSM diaplikasikan untuk mengukur perubahan kualitas data. Menggunakan batas wilayah kelurahan di Surabaya, pengunduhan data OSM di awal proyek kemudian dibandingkan dengan pengunduhan di akhir saat proyek rampung. Berikut adalah tabel pembandingan beberapa kelurahan di Surabaya, terlihat persentase warning sebelum dan setelah proyek berlangsung menurun drastis.

Walaupun masih terdapat beberapa peringatan terkait kualitas data setelah proyek rampung, peringatan ini terkait dengan kesamaan nama jalan di Indonesia yang teridentifikasi sebagai error oleh perangkat validasi. JOSM menganggap nama jalan yang serupa sebagai suatu kesalahan–seperti Jalan Keputih I, Jalan Keputih II, Jalan Keputih III yang merupakan hal yang umum dalam praktik penamaan jalan di Indonesia.

Berikut merupakan contoh sebelum-dan-setelah batas wilayah di salah satu kecamatan Surabaya, Genteng. Batas wilayah yang baru merupakan informasi yang didapatkan dari perwakilan kelurahan yang membantu mengidentifikasi batas-batas RW dan kelurahan.

Data OSM yang terkumpul akan digunakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Jawa Timur untuk meningkatkan sistem peringatan dini real-time dan pendukung pengambilan kebijakan menggunakan perangkat InAWARE. Selain itu, OpenStreetMap dan data keterpaparannya menyediakan peta dasar untuk Peta Bencana yang berfungsi sebagai platform urun daya informasi banjir menggunakan media sosial dan aplikasi pesan singkat. HOT juga akan memberikan hasil cetak peta untuk kantor-kantor kelurahan sebagai apresiasi kontribusi mereka dalam menambahkan pengetahuan lokal. Lihat video aktifitas pemetaan serta tantangan dan hasil utama di video berikut:

 

Biondi Sima
Biondi Sima
Biondi is a Communications Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied International Economic Policy and Sustainable Development in SciencesPo Paris and Peking University Beijing.

Comments are closed.