Dukung BNPB, Grab Gunakan Aplikasi Digital HOT untuk Pendataan Titik Evakuasi dan Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Grab Indonesia melakukan inisiatif kemanusiaan yang belum pernah ada sebelumnya. Bekerjasama dengan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), mitra GrabBike dilatih cara menggunakan aplikasi berbasis Android untuk pengidentifikasian rute dan titik-titik evakuasi, serta pelaporan kebutuhan mendesak pengungsi.

Aplikasi yang dimaksud adalah Geo Data Collect (GDC), berfungsi sebagai formulir online sederhana dan mudah digunakan yang dapat melakukan tracking jalur tempuh kendaraan, menangkap koordinat lokasi, mengambil gambar dan video, serta memasukkan informasi yang sebelumnya dapat diformat oleh pusat pengambilan kebijakan sesuai dengan kebutuhan data dari lapangan. GDC dikembangkan oleh HOT melalui dukungan dari DMInnovation dan Pemerintah Australia.

Menariknya, informasi dari GDC oleh HOT telah terintegrasi langsung dengan server Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data yang terkumpul dapat direkapitulasi dalam bentuk tabel kebutuhan, dokumentasi dari lapangan, dan peta jalur dan wilayah yang direkam dan dilaporkan oleh pengguna aplikasi.

Data spasial berupa peta, gambar, dan daftar kebutuhan akan sangat berguna bagi pemerintah, organisasi, dan relawan kemanusiaan saat merespon dan memitigasi bencana, terutama dalam hal penyaluran bantuan kebutuhan dasar, seperti obat-obatan, makanan, air bersih, dan kebutuhan khusus lainnya.

Sebagai percobaan pilot dari proyek ini, HOT melakukan sosialisasi kepada lebih dari 50 orang driver GrabBike di Bali. Pemilihan lokasi di Bali didasari atas kebutuhan identifikasi lokasi pengungsi menyusul Status Awas Gunung Agung di tanggal 22 September 2017. Menyusul di tanggal 5 Oktober 2017, didampingi tenaga pelatih dari HOT, pelatihan dan survei lapangan perdana dilaksanakan oleh 18 pengemudi GrabBike di Klungkung dan Karang Asem. Kedua kabupaten memiliki konsentrasi pengungsi tertinggi, mencapai 255 lokasi. Driver GrabBike berhasil melakukan pendataan dari lebih dari 20 posko pengungsian dan mencatat kebutuhan mereka dalam kurang dari 3 jam saat pendampingan survei pertama. Mereka berhasil mendata lebih dari 114 pos pengungsian di minggu pertama. GrabBike driver juga diamanatkan untuk mengidentifikasi lokasi pengungsian hewan ternak dan lokasi pelayanan kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Ada tiga alasan mengapa pelatihan penggunaan aplikasi pelaporan oleh Grab untuk pengungsi merupakan ide yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan:

Pertama, pengemudi Grab berjumlah massif, tersebar di berbagai ruas jalan di hampir 24 jam sehari, dan semuanya telah akrab dengan penggunakan aplikasi telepon genggam. Profesi pengemudi Grab juga menuntut mereka mengingat lokasi fasilitas dan rute jalan di suatu wilayah, sehingga mereka dapat mengidentifikasi jalur navigasi dengan lebih mudah. Di sisi lain, relawan kemanusiaan tidak semua berasal dari wilayah lokal terdampak. Ini berarti, mereka tidak sepenuhnya akrab dengan situasi rute dan lokasi fasilitas umum di wilayah yang ingin dijangkau. Terutama di wilayah pelosok, rute jalan dan bangunan banyak yang belum terpetakan sehingga mengandalkan peta dasar secara mandiri tidaklah cukup.

Kedua, pengumpulan data dari lokasi pengungsian saat ini dikerjakan secara manual, menggunakan kertas dan pulpen. Pelaporan data kertas membutuhkan waktu sebelum dapat diterima oleh pihak pusat sebagai pengambil keputusan utama. Proses rekapitulasi dan analisa data pun harus diinput kembali secara manual, yang memakan waktu cukup lama. Penundaan respon akibat pengumpulan data manual sangat tidak efisien pada situasi krisis, dimana setiap detik sangat berharga dalam menyelamatkan dan menjawab kebutuhan korban bencana. Adapun perangkat informasi pesan singkat, seperti Whatsapp serta telepon, yang kini digunakan oleh banyak stakeholder pemerintah, walaupun dapat mempersingkat waktu penyampaian informasi, masih tidak memiliki fitur seperti geolokasi, peta, dan rute jalur. Rekapitulasinya pun masih harus dilakukan secara manual, sebelum keputusan akurat berbasis data dapat diambil.

Terakhir, Grab kini telah hadir di lebih dari 75 kota, dan direncanakan akan membuka cabang baru di hingga 100 kota/kabupaten di Indonesia. Banyak dari wilayah ini merupakan wilayah yang sama dengan kota/kabupaten prioritas rawan bencana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang diusung oleh BNPB. Indonesia adalah negara dengan tingkat risiko di atas 10% (UNU-EHS, 2016). Dibutuhkan peran pihak swasta dan non-pemerintah untuk bahu-membahu membangun kapasitas dan sinergi dalam meningkatkan tanggap bencana.

Kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, HOT Indonesia, dan Grab, adalah contoh kerjasama publik-privat-non-profit dalam menjawab tantangan dan isu sosial menggunakan inovasi teknologi, urun daya, dan peran aktif komunitas masyarakat, dalam hal ini pengendara ojek online.

HOT sendiri telah mengaktivasi Tasking Manager (bit.ly/petakanbali) agar masyarakat umum dapat membantu memetakan wilayah terdampak; dan bersama Grab merencanakan mapathon (atau mapping marathon) di beberapa lokasi untuk mendukung BNPB dalam melaksanakan respon bencana yang semakin efektif. Kampanye Petakan Bali secara online mencapai 54% oleh 49 relawan dengan wilayah zona merah berhasil tervalidasi seluruhnya.

Biondi Sima
Biondi Sima
Biondi is a Communications Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied International Economic Policy and Sustainable Development in SciencesPo Paris and Peking University Beijing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *