BNPB Manfaatkan Tasking Manager OSM untuk Pengumpulan Data Infrastruktur di 136 Kabupaten/Kota

Indeks Risiko Bencana Indonesia 2015

Tahun ini, BNPB punya agenda besar. Sebagaimana diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo, daerah-daerah dengan indeks risiko bencana tinggi agar disusun dokumen rencana kontinjensi nya. Tentunya, diperlukan input yang cukup banyak untuk menyusun dokumen tersebut, terutama untuk pengembangan skenario dampak. Skenario dampak sendiri terdiri dari banyak elemen, salah satunya dampak suatu bencana terhadap penduduk, bangunan, fasilitas umum, jaringan jalan, dan lahan. Untuk mengoptimalkan pengumpulan data infrastruktur, BNPB memanfaatkan Tasking Manager OpenStreetMap (OSM) untuk memetakan bangunan, fasilitas umum, dan jaringan jalan di 136 kabupaten/kota yang menjadi prioritas.

Tasking Manager merupakan suatu alat yang dirancang dan dibuat untuk melakukan pemetaan kolaboratif. Tujuan dibuatnya alat ini adalah untuk membagi wilayah pemetaan yang luas menjadi area pemetaan yang lebih kecil dalam bentuk kotak / grid yang lebih kecil, dimana setiap kotak/grid dimaksudkan untuk dikerjakan oleh 1 orang agar tidak terjadi tumpang tindih kerja pemetaan. Dengan demikian, banyak orang dapat bekerja secara bersama-sama memetakan suatu wilayah. Siapa saja kontributor OSM yang ikut memetakan suatu project tasking, tercatat data dan pekerjaannya.

Tasking Manager OSM

Tasking Manager OSM

Sebanyak 136 project tasking dibuat oleh BNPB guna mendukung kegiatan pengumpulan data infrastruktur tersebut. Kontributor OSM dimanapun berada diperbolehkan untuk turut membantu proses digitasi. Meskipun demikian, tugas utama untuk melakukan digitasi dan memonitor perkembangan pemetaan ada pada tenaga pendukung GIS BNPB. Karena itu, selain mempersiapkan Tasking Manager, BNPB juga mempersiapkan SDM untuk menangani dan mengoperasionalkan Tasking Manager. Setidaknya 14 tenaga pendukung GIS baru direkrut oleh Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. Tenaga pendukung GIS tersebut bertugas diantaranya untuk melakukan digitasi dengan Tasking Manager dan turut mengajarkan kepada relawan lokal bagaimana melakukan pemetaan dengan OSM.

Untuk memberikan bekal yang cukup bagi para tenaga pendukung GIS tersebut, BNPB bekerja sama dengan Disaster Management Innovation (DMI) dan HOT Indonesia menyelenggarakan pelatihan pemantapan materi OSM. Selain materi OSM, pada pelatihan yang berlangsung selama 3 hari pada 14, 16, dan 17 Februari ini juga mengupas tentang QGIS, InaSAFE, dan InaSAFE realtime sebagai perangkat lunak lanjutan yang digunakan untuk mengolah data OSM menjadi informasi baru dalam dokumen rencana kontinjensi.

Peserta Pelatihan Diajarkan Pemanfaatan InaSAFE

Peserta Pelatihan Diajarkan Pemanfaatan InaSAFE

Penutupan Pelatihan

Penutupan Pelatihan

Bagi rekan-rekan kontributor OSM yang ingin membantu memetakan salah satu dari 136 kabupaten/kota tersebut, silakan cek pada peta interaktif berikut. Bulatan-bulatan merah menunjukkan kabupaten/kota yang menjadi prioritas. Klik pada bulatan merah tersebut untuk melihat kabupaten/kota manakah itu, berikut link untuk mengakses Tasking Manager nya. Keseluruhan project tasking ini ditargetkan selesai pada tahun 2017 ini. Beberapa project tasking sudah mulai dikerjakan, namun beberapa project belum dimulai proses pemetaan. Ayo bantu petakan !!!

elida
elida
GIS Trainer @Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia

2 Comments

  1. RUDY berkata:

    bagaimana cara membantu memetakan salah satu dari 136 kabupaten/kota tersebut? terima kasih.