OpenStreetMap untuk Pembangunan Desa dan Pengentasan Kemiskinan

Di tanggal 1-4 Agustus, diwakili oleh Communications Specialist-nya, HOT Indonesia berkesempatan memenuhi undangan Regional Expert Meeting untuk pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan di Asia, berlokasi di Udon Thani, Thailand, disponsori oleh Royal Thai Government, Thammasat University, UNESCO, dan organisasi regional lainnya. HOT menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan proyek yang meningkatkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, revitalisasi pembangunan desa.

Gambar 1. HOT Indonesia terlibat dalam pertemuan ahli regional untuk pembangunan desa tingkat Asia di Udon Thani, Thailand.

Wilayah pedesaan seringkali diasosiasikan dengan keterbatasan infrastruktur, kemiskinan, dan kebergantungan terhadap sektor pertanian. Lebih dari separuh populasi pedesaan hidup dalam kemiskinan ekstrem (extreme poverty) atau rentan miskin (near-poor) yang merupakan kalangan yang dengan mudah kembali pada kemiskinan ekstrem apabila diperhadapkan dengan situasi krisis atau darurat, seperti gagal panen, menurunnya harga pangan, cuaca ekstrem, krisis politik, wabah penyakit, kecelakaan, atau bencana alam. Walaupun jumlah kemiskinan ekstrem (masyarakat yang hidup di bawah US$ 1.25 / hari) telah berhasil diturunkan separuhnya di Tahun 2010, masyarakat yang rentan miskin di daerah pedesaan masih dengan mudah terpapar pada risiko dan situasi krisis. Di sisi lain, kesenjangan sosial terus diperlebar dengan pertumbuhan revolusi IT di berbagai industri, mendorong pertumbuhan di wilayah perkotaan dengan infrastruktur yang telah memadai, namun tidak menjawab kebutuhan pembangunan di pedesaan. Selain itu, perubahan iklim  menyebabkan timbulnya cuaca ekstrem yang mengancam ketahanan pangan dan memengaruhi penghidupan masyarakat miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil pertanian dan industri ekstraktif padat karya lainnya.

HOT Indonesia telah mengupayakan penjangkauan komunitas pedesaan agar mereka dapat memberdayakan peta partisipatif. Perangkat bebas-terbuka, seperti Ushahidi dan OpenStreetMap, memiliki kemampuan untuk membantu komunitas mengetahui lokasi dan memvisualisasikan keberadaan (atau ketidakberadaannya) infrastruktur vital di daerah mereka. Peta seperti ini dapat dimanfaatkan mengadvokasi berbagai isu dan memampukan pengambilan kebijakan dan penyelesaian masalah pedesaan berbasis data dan bukti. Di beberapa kesempatan, HOT juga melakukan respon bencana alam real-time, dimana data peta tidak tersedia sebelumnya. Saat Gempa Bumi Pidie Jaya di Bulan Desember 2016, misalnya, HOT memobilisasi jaringan relawan untuk memetakan keseluruhan wilayah, mencakup hampir 105,000 tapak bangunan dan lebih dari 4,000 km jalan. Peta ini dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk mengerahkan petugas dan relawan lapangan, mengidentifikasi wilayah terdampak, dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan di tempat-tempat yang sebelumya tidak terpetakan.

Sambil melakukan kegiatan-kegiatan di atas, HOT juga dengan aktif mempromosikan inklusivitas perempuan dalam pembangunan, menyadari bahwa tingkat kemiskinan rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan dengan anak berkisar 80% lebih tinggi dibandingkan rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki dengan anak, berdasarkan survey dari Economic Policy Institute. Di Indonesia, HOT juga bekerjasama dengan kelompok-kelompok termarginalisasi, termasuk komunitas difabel dan pemuda, mengetahui bahwa kelompok ini terdampak secara tidak proporsional di berbagai isu sosio-ekonomi dan karenanya suara mereka perlu dimasukkan ke dalam pengambilan kebijakan. HOT juga sering berkolaborasi dengan organisasi berbasis keagamaan saat melakukan pendekatan dengan komunitas pedesaan.

Gambar 2. Komunitas di Marunda membuat peta digital mereka sendiri dimana masyarakat bisa menandakan PoI dan melaporkan aktivitas tertentu di wilayah mereka.

 

Sejak tahun 2011, HOT Indonesia memberikan bantuan teknis dan dukungan untuk Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), termasuk di 136 daerah prioritas rawan bencana yang banyak diantaranya berlokasi di wilayah pedesaan. Di samping itu, HOT melatih komunitas di pinggir perkotaan untuk memetakan berbagai macam titik penting (PoI), seperti lokai urban farming, UMKM, pusat pelatihan, pusat evakuasi, situs pariwisata dan kebudayaan, situs daur ulang dan pengelolaan sampah, dan sebagainya. Proyek  pemetaan infrastruktur vital berskala besar, seperti yang dilakukan untuk mendukung perangkat, seperti InAWARE dan InaSAFE, walaupun sekarang dilakukan di kota-kota besar, namun dapat dengan mudah direplikasi di wilayah terpencil, dimana pentrasi internet masih minimal.

Di berbagai tempat di dunia, HOT juga terlibat dalam berbagai pekerjaan kolaboratif untuk membantu mengatasi tantangan-tantangan pembangunan dengan berbagai cara. Proyek-proyek ini, termasuk memberikan Microgrants ke berbagai proyek pemetaan; eliminasi malaria Missing Maps di berbagai negara di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara; pemetaan wilayah kemah pengungsi di Turki dan Uganda; serta pemetaan akses finansial di Uganda. Banyak dari kegiatan ini mengembangkan perangkat untuk mendukung pencapaian dan pengawasan SDGs, dengan misi besar pengentasan kemiskinan dengan cara yang berkelanjutan (sustainable). OpenStreetMap dapat mengakselerasi inisiatif-inisiatif ini dan HOT secara aktif mempromosikan ide-ide ini di Pertemuan Ahli Regional di Asia.

Biondi Sima
Biondi Sima
Biondi is a Communications Specialist in the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) Indonesia. He studied International Economic Policy and Sustainable Development in SciencesPo Paris and Peking University Beijing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *